Kisah Putri Buta dan Si Pembohong (Part 2 - terakhir)



"Kau putri sialan!" Arthur mengambil kampak dan hendak mengejar putri, tapi Uther berusaha menahan tangan sang ayah. 

"Putri, segera pergilah bersama Pashmina. Ia yang berwarna cokelat putih!" perintah Uther. Namun putri tidak tega meninggalkannya. "Cepatlah pergi!!" sentaknya lagi. 

Putri Adeline langsung melepaskan tali Pashmina dan berkuda menjauh menuju pohon apel. Ia turun dan terkapar lemas. Sungguh pemandangan yang menakutkan, yang mungkin akan menjadi mimpi buruknya nanti malam. Meski begitu ia berusaha mencermati perkataan Arthur tadi, "Tidak ada upah? Kerajaan juga tak memberi makan ? Padahal pekerjaan mereka baik sekali! Uh, seandainya ayah tidak terlalu sibuk diplomasi politik, aku pasti bisa meminta bantuan!" 

"Adeline!" seorang pria gagah dengan rambut emas nan tampan memanggilnya. Sesaat putri tak mengenalinya, tapi setelah melihat dengan teliti mahkota yang dikenakannya, itu adalah sang ayah, Raja Robert Godwin.

"Ayaaaah!" putri berlari dan memeluknya dengan sejuta kerinduan. Sebab selama setahun ini ayahnya sibuk dengan politik luar negeri dan jarang pulang. Namun kabar tentang kesembuhan putri telah terus terdengar dan ia ingin segera pulang menemui anaknya. "Aku hampir tidak mengenali ayah, karena sekarang kau sudah berjanggut." kata sang putri terbahak. 

"Anakku, kenapa engkau menangis?" tanya Robert sambil mengusap sisa air mata putri.

"Ini soal Ibu dan temanku, ayah." sambil duduk santai di bawah pohon, sang putri menceritakan segala kebaikan Uther, pemaksaan perjodohan, dan keluh kesah serta kemarahan Arthur. "Mohon bantulah mereka ayah!" 

"Apa!? Raja macam apa aku ini! Dan Ratu macam apa Wendeline itu!? Dia mengecewakan kepercayaanku!" Robert begitu murka hingga meremas rumput. "Aku terlalu sibuk di luar negeri sampai lupa memberi makan rakyat di dalam negeri, bahkan rakyat itu masih tinggal di lingkungan istana!"

"Mari ayah, kita harus segera kesana," sang putri menarik tangan sang ayah, mengajaknya naik Pashmina. "Ayo kita selamatkan mereka!"

"Kau ingin naik kuda? Baiklah, ayah akan mengendalikannya untukmu."

"Tidak perlu, ayah, sebab aku adalah orang buta pertama di dunia yang bisa mengendalikan kuda!" tolak Adeline penuh kebanggaan.

"Wow! Baiklah, mari coba kita buktikan," putri Adeline naik lebih dulu, baru kemudian sang ayah naik di belakang. Ia mengingat betul ajaran Uther. Kuda dikejutkan tali dan akhirnya berjalan. "Wah, kau benar-benar bisa! Luar biasa! Tapi kita harus merahasiakannya dari Ibumu, karena aku bisa dibunuhnya kalau ia tahu anak gadis ini naik kuda!" Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Sesampainya Robert di kandang kuda, Arthur masih bertengkar dengan anaknya. "Hentikan!" tegas sang raja. Suaranya bagaikan sambaran petir tanpa kilat di langit cerah. 

"Baginda raja!" Arthur begitu terkejut hingga tubuhnya terasa dingin dan hampir pingsan. Ia mendekat dan langsung bersujud kepada rajanya. "Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak bermaksud memarahi putri Adeline. Hidup hamba sekeluarga sudah sulit, mohon jangan ditambah lagi hukuman kami!" 

"Bangkitlah, jangan bersujud pada sesama manusia. Ada sebuah kesalahan dan kesalahpahaman disini, karena itu saya datang untuk meluruskannya," titah raja Robert. "Pertama, saya hendak mencabut hukuman tak beralasan dari Ratu; Kedua, saya akan menaikkan upah hostler menjadi 10 kali lipat; Ketiga, keluarga hostler berhak mengambil bahan makanan yang diperlukan dari dapur kerajaan; Terakhir, keempat, aku akan mengabulkan satu keinginan apapun dari Uther yang telah berjasa menjadi teman yang baik bagi anakku putri Adeline."

"Terimakasih Tuhan! Terimakasih baginda raja!" Arthur dan Uther, serta keluarganya bersorak gembira saling berpelukan. "Hidup baginda raja Robert Godwin!" 

"Uther, ayo sebutkan keinginanmu!" perintah sang putri. "Kau bisa meminta buku yang banyak jika mau!" 

Uther dengan hormat menunduk pada sang raja dan berkata, "Yang mulia, hamba ingin diizinkan untuk bersekolah. Hamba ingin belajar, menjadi pintar, supaya bisa sukses dan bisa menghidupi keluarga."

Semua orang terkejut, tanpa kecuali. Disaat ia punya kesempatan meminta kekayaan atau buku-buku impian. Ia malah meminta sesuatu yang lebih sederhana. Bahkan raja Robert sekalipun tersenyum bangga. 

" Baiklah," raja Robert bertitah. "Mulai sekarang anak-anak keturunan Horsekeeper akan mendapatkan izin tertulis untuk masuk sekolah. Izin ini berlaku selamanya dan juga keturunan Horsekeeper selanjutnya!"

Uther menangis bahagia. Putri Adeline juga ikut terharu.

***

Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kali seumur hidupnya, Uther akhirnya bisa memakai pakaian rapi khas bangsawan. Keluarga Uther dengan bangga mengantarnya hingga keluar dari gerbang istana kerajaan. Ayah dan Ibunya menangis tersedu-sedu, sementara adik-adiknya terus menari sambil bernyanyi untuk merayakan. 

Uther berkuda di tengah kota, menaiki Zora, kuda hitam warisan ayahnya. Namun kali ini ia pergi tanpa rasa takut dihina seperti dulu. Serasa seperti orang yang baru keluar dari penjara, ia menikmati setiap pemandangan: Bangunan-bangunan pertokoan yang megah, lalu pasar yang ramai nan berisik, juga pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dengan aroma menggoda. Kalau tidak ingat ia sudah sarapan tadi, mungkin ia akan berhenti sejenak menikmati kue-kue yang terpajang indah di bakery itu.

Namun Uther akhirnya terhenti ketika melihat toko buku kecil, "Wah banyak sekali bukunya!" katanya kagum, meski sebenarnya bukunya tak banyak dan hampir habis. "Aku akan bekerja keras supaya bisa membeli seluruh bukunya!" 

"Pangeran.." sapa putri Adeline dengan nada panggilan yang sangat menyindir. Ia berkuda dengan Pashmina. Ia mengenakan jubah sesuai permintaan sang ayah, agar identitasnya tidak diketahui. "Ayo, jangan sampai kita terlambat. Ini hari pertama kita bersekolah!"

Mereka pun mengadu cepat balapan kuda di tengah kota.

***

Istana memang megah, tapi sekolah barunya seakan jauh lebih megah lagi bagi Uther. Adeline saja yang sudah terbiasa dengan kemewahan ikut mengagumi. Sekolahnya adalah sebuah gedung megah di tanah yang luas, dengan banyak jendela serta menara yang tinggi. Ada lapangan olahraga yang begitu luas didepannya.

Anak-anak bangsawan yang baru turun dari kereta kuda, memandang heran dua murid baru yang menaiki kuda tanpa kereta, nampak seperti orang miskin baginya. Namun dengan tak acuh ia memasuki gedung.

" Ayo kita masuk," ajak sang putri menyadarkan lamunan Uther." Kau akan melihat sesuatu yang lebih menakjubkan dari toko buku kecil tadi!"

Uther membaca tulisan di pintunya: Perpustakaan. Kemudian begitu masuk ia baru mengerti perkataan putri. "Waaaah, luar biasa, aku tidak sedang bermimpi kan!?" serunya. Buku-buku dengan sampul menarik dalam jumlah luar biasa banyak, disusun di rak yang perlu tangga untuk mencapai puncaknya, "Sungguh takkan cukup umurku untuk membaca semuanya!" 

Putri Adeline mengajak Uther ke area buku-buku dongeng. Sang putri membawa satu buah buku dengan sampul merah muda yang menarik. Sementara Uther mengambil buku semampu pelukannya, seakan ia bisa membaca semuanya. Mereka akhirnya duduk santai dan membaca bersama. 

Selama ini sang putri memendam perasaan suka pada Uther, karena itulah ia ingin ikut bersekolah. Berharap dengan cara ini, ia akan selalu bisa bersama Uther setiap harinya. Begitu juga Uther yang memendam perasaan pada putri, karena itulah ia ingin belajar hingga pintar untuk memantaskan diri. Semoga kelak mereka bisa hidup bersama dan bahagia.

TAMAT

Kisah Putri Buta dan Si Pembohong (Part 1)


Dulu kakek buyutnya adalah penjaga kuda kerajaan yang disebut hostler, kemudian pekerjaan itu diturunkan kepada kakeknya, ayahnya, hingga akhirnya kini ialah Uther the Horsekeeper yang mewarisi tugas berat tersebut. 

Menjadi penjaga kuda itu melelahkan. Disaat mereka, orang terpandang mengendarai kuda tanpa perasaan, bahkan hingga menyakiti, ada hostler yang bekerja keras merawat kuda-kuda itu hingga pulih. Tapi disaat orang  itu makan enak, para hostler makan seadanya dari upah seadanya. Sebab pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan rendahan.

Uther merutuki nasibnya. Usianya sudah 15 tahun tapi ia belum pernah merasakan sekolah. Sebab pada zaman ini hanya para anak bangsawan dan orang terpandang saja yang diperbolehkan untuk sekolah. Ia ingin sekolah, ia ingin belajar, dan ia ingin punya pekerjaan yang lebih baik.

Beruntung, meski keluarganya miskin, sang Ayah masih peduli pada pendidikan meski hanya sekedar mengajarinya membaca. Butuh 1 tahun menabung bagi sang ayah untuk membelikan buku dongeng tebal ini sebagai hadiah ulang tahun ke-7. Mungkin hanya itulah satu-satunya harta paling berharga yang dimilikinya saat ini.

Siang ini cukup panas. Seperti biasanya, usai memberi makan dan memandikan kuda, Uther membaca buku dibawah pohon apel yang sejuk. Tapi kali ini sebuah buku tidak dapat membendung rasa jenuhnya. "Aah, kapan aku bisa pergi dari sini sih. Aku sudah muak membaca buku yang sama 8 tahun ini." keluhnya. Bahkan saking seringnya membaca buku itu, ia menganggap seluruh dongengnya adalah sejarah yang nyata. 

Ia pun menaruh buku itu dibelakangnya, dan menjadikannya bantal. Uther memiringkan posisi tidurnya. Terlihatlah seorang putri cantik yang sedang bernyanyi di jendela kamarnya.

Nyanyian merdunya seindah parasnya. Rambutnya berkilau keemasan, dan mata birunya berbinar begitu indah. "Kalau bukan karena kecantikan putri Adeline, mungkin aku sudah mati terbunuh kejenuhan disini."

Uther teringat cerita ayahnya. Katanya putri Adeline tiba-tiba buta saat berusia 7 tahun, dan hingga saat ini tak ada yang mampu menyembuhkannya. Sepintas ide nekat pun melintasi pikiran Uther. Ia ingin tahu apakah sang putri benar-benar buta atau tidak.

Uther mendekat tanpa suara tapi tepat didepan pandangan sang putri. Langkah demi langkah ia lakukan dengan hati-hati. Namun pandangan sang putri tetap kosong, dan ia tak juga menegurnya. Ia pun akhirnya percaya bahwa gadis itu benar-benar buta.

Uther maju sedikit lagi dan *Krak!* ia tak sengaja menginjak ranting kering!

"Siapa disana?" tegur sang putri.

"A-ku, eh, saya.." Uther panik, tak mungkin baginya mengaku sebagai hostler. Bisa-bisa putri menganggapnya tak sopan dan kerajaan menghukumnya. Akhirnya secuil ide membuatnya menjawab, "Saya pangeran Uther the Horsekeeeper dari Neverland!" satu-satunya nama negeri yang ia tahu, dan itu dari buku dongeng.

"Neverland? Sepertinya aku pernah membacanya, tapi dimana ya.." putri berusaha mengingat tapi gagal. "Ah sudahlah. Karena buta, sudah lama aku terpenjara di kamar ini. Seperti apa negerimu?"

*Huf, aku selamat!* pikir Uther sambil mengusap dada. Ia memutar otak sejenak dan menjawab, "Negeri saya ada ditempat yang sangat tinggi di atas pegunungan yang diselimuti kabut awan. Negeri saya adalah tempat tinggal para peri dan kurcaci!"

"Wow," sang putri terkagum-kagum. "Sungguh beruntungnya tinggal disana. Pasti sangat menyenangkan bisa bermain bersama mereka!" 

Mereka berdua pun akhirnya saling mengobrol dengan asyiknya. Meskipun sebenarnya Uther hanya berbohong dengan menceritakan petualangan khayalan yang ia baca dari buku dongengnya. Seperti petualangan khayalnya di 7 lautan bersama Sinbad, melawan naga laut dan gurita raksasa. Namun sang putri begitu senang dan mendengarkan dengan serius.

Tanpa terasa hari sudah sore dan obrolan berakhir. Putri Adeline merasa bahagia karena mendapat cerita menarik, sementara Uther jelas sedang merasa diatas awan karena bisa bertatap muka dengan pujaannya.

Esok harinya obrolan terus berlanjut. Uther menceritakan kisah khayalnya saat membantu para kurcaci melawan dua troll di dalam hutan angker. Ia menceritakan kehebatannya juga yang telah berhasil menemukan harta yang ditimbun di gua troll. 

"Aku bisa membayangkan sosok kurcaci dan peri," ujar sang putri. "Tapi seperti apakah sosok troll itu? Aku sulit membayangkannya."

"Bangsa troll itu tingginya 3 kali manusia dewasa. Mereka suka memakan manusia dengan rakus, sambil meminum banyak tong berisi bir tanpa mabuk, dan mulutnya tak pernah tak berkata kasar!"

Obrolan penuh kebohongan seperti ini terus berlangsung setiap hari, dan hubungan mereka makin dekat.

***

Seminggu kemudian, Pashmina, kuda kerajaan berwarna cokelat putih telah sembuh dari cedera kaki. Uther mengendarainya berkeliling taman istana untuk melatih otot kakinya. Setelah cukup lama, ia berhenti didepan jendela kamar putri Adeline untuk menyapa. "Selamat pagi putri Adeline, saya membawa Pashmina kali ini! Dia adalah kuda yang saya bawa saat beraksi bersama Robin Hood!"

"Sini-sini, aku ingin memegang dan mengusap rambutnya!" katanya sambil meraba-raba. "Wah, sudah lama aku tidak menyentuh kuda! Beruntungnya kamu adalah lelaki, jadi bisa naik kuda." sang putri tertunduk sedih, "Huff, perempuan di kerajaan ini dilarang naik kuda."

Uther melihat sekitarnya. Aman, tak ada yang mengawasi. "Tunggu sebentar ya putri, ada hal yang harus saya bawa kesini."

Tak lama kemudian Uther kembali dengan sebuah gerobak jerami. Ia melepas gerobak dari sadel kudanya dan memposisikannya dibawah jendela.

"Putri, saya sudah menaruh gerobak jerami sebagai pijakan. Sekarang melompatlah keluar jendela, saya akan menjaga agar putri tidak jatuh."

"Untuk apa aku keluar?"

"Tentu saja naik kuda."

Tanpa keraguan, dengan senang hati sang putri melompat keluar. Uther lalu memeganginya dan menuntunnya naik ke atas sadel kuda. Setelah putri duduk dengan nyaman. Uther naik di belakangnya dan menjalankan kudanya. Sang putri begitu bahagia, ia tersenyum sambil menangis. Ia mengangkat tangan dan merasakan udara segar sementara Pashmina melaju kencang.

Sesampainya di lapangan kosong Uther bertanya, "Putri, apa kau ingin mencoba mengendalikan kuda?"

"Pangeran, kamu ini Ada-ada saja. Aku kan buta, mana mungkin bisa."

"Ya kalau begitu kau adalah orang buta pertama di dunia yang bisa mengendalikan kuda." ujar Uther. Ia menyerahkan kendali pada sang putri. "Pegang tali ini dengan nyaman dan tenangkan diri, saya akan menjagamu. Kejutkan kudanya dengan talinya, tapi pelan saja."

"Baiklah," sang putri mengejutkan kuda dan ketika kudanya berjalan pelan ia hampir menjerit kaget bercampur senang. Ia mengikuti komando dari Uther dengan baik. 

Sampai akhirnya mereka berhenti di taman bunga kerajaan. Uther memandu sang putri untuk turun. Uther merasa iba, sang putri tidak bisa melihat warna-warni bunga di taman luas ini. Uther menuntun tangan sang putri untuk menyentuh bunga. "Ini bunga tulip merah muda, putri."

"Wah, bunga! Aku sudah lama tidak menyentuh bunga!" sang putri lalu mencium dan menikmati wanginya. "Pangeran, bawalah aku kepada bunga-bunga lainnya."

Uther membawanya ke bunga matahari, dahlia, dan akhirnya ke bunga mawar. Sang putri langsung ingin menyentuh mawar itu. Namun Uther menampik tangannya, "Jangan sentuh batangnya, Putri, itu sangat berduri!"

"Ah, maaf."

Uther menuntun tangan sang putri untuk menyentuh kelopaknya.

"Aku ingin mencium wanginya, seperti bunga lainnya. Tapi bagaimana caranya?"

"Baiklah," Uther mengambil pisau buah dari sakunya. Ia memotong duri dari batangnya dan memetik bunga itu. "Ini untukmu putri, sudah aman dari duri."

"Hmm.. Diantara seluruh bunga, aku paling suka wangi bunga ini. Boleh aku menyimpannya?"

"Tentu saja," jawab Uther.

Panas matahari siang mulai menyengat, Uther segera membawa sang putri kembali ke kamarnya.

"Terimakasih pangeran untuk pengalaman luar biasa ini. Aku sungguh bahagia." ucap sang putri dengan tulus.

Tiada pernah seharipun Uther memimpikan hari bersejarah ini. Ia bisa berkuda bersama dan memberi bunga pada putri. Nasib buruk sebagai hostler rasanya sudah tidak terasa lagi baginya.

***

Siang yang aneh, sang putri tak ada di jendela kamar. Uther merasa kecewa, apalagi ia sangat kelelahan seusai merawat kuda-kuda tamu kerajaan yang begitu banyaknya. Kereta kudanya bertuliskan huruf aneh yang tak dapat ia baca. Ayahnya bilang itu adalah huruf dari negeri Yuan. *Mungkin nanti sore dia akan muncul, dia kan selalu di kamar,* pikirnya.

Namun, sore harinya kamar putri tetap kosong. Begitu pula esoknya, lusanya, dan bahkan minggu selanjutnya. Pikiran buruk pun mulai menghantui, "Pasti ada pangeran Yuan yang melamar putri Adeline. Yah, siapalah aku, hanya seorang hostler miskin. Tak seharusnya aku patah hati."

Sejak saat itu, Uther the Horsekeeper merutuki nasib buruknya lagi. Ia tiduran dibawah pohon apel berbantalkan buku dongeng. Ia memiringkan posisi tidurnya dan memandang jendela kosong dengan sedih. 

***

Beberapa hari kemudian sang putri terlihat lagi di jendela. Uther terkesiap dan langsung berlari menghampiri. Sang putri sedang memandang kosong sambil memegangi bunga mawar yang layu.

"Putri.." sapa Uther dengan canggung. Perasaan lelah yang menumpuk seakan sirna ketika melihat sang putri dari jarak sedekat ini.

"Uther.." Putri Adeline memandangnya, senyumnya merekah, namun akhirnya menangis tiba-tiba. "Akhirnya, aku bisa melihatmu!" 

"Maksudmu apa?" senyuman Uther kontan berubah menjadi kepanikan. Apalagi bajunya saat ini begitu kumal: hanya seragam hostler warisan dengan dalaman kaus tanpa tangan yang dekil. Terlebih lagi, kebohongannya pasti sudah terbongkar! "Kau bisa melihat? Kau tidak bercanda kan?" 

"Ya, aku benar-benar bisa melihat sekarang!" ujar sang putri bersemangat. "Kemarin teman ayahku dari kerajaan Yuan datang membawa tabib. Mataku diobati selama seminggu penuh dan akhirnya aku sembuh!"

Uther bergerak mundur, rasa bahagianya tertutupi rasa malu yang lebih besar. Ya, begitu besar! Sehingga tanpa sadar ia sudah berlari menjauh. Sang putri terus memanggil-manggil namanya. Namun ia tak mau kembali. Hingga akhirnya ia bersembunyi di kandang kuda.

***

Kabar kesembuhan mata sang putri ternyata dengan cepat menyebar ke seluruh benua. Ratu Wendeline hendak menjodohkan sang putri untuk memperluas daerah kekuasaan kerajaan.

Saat ini di mahligai istana telah hadir tiga pangeran tampan dari negeri seberang. Tak ada yang salah dengan mereka. Semuanya adalah orang baik yang sangat terdidik. Tak ada cela sama sekali. Namun sang putri tak bersemangat, ia menolak keras untuk dijodohkan.

"Adeline, kau jangan mempermalukan Ibu ya! Terimalah salah satu lamaran demi masa depan kerajaan kita!" bisikan sang Ratu, murka.

"Ibu, aku baru saja sembuh! Aku baru saja terbebas dari kamar yang bagai penjara itu! Kenapa kau mengurungku lagi dengan ikatan pernikahan!" jawabnya dengan lantang. Seisi mahligai terkesiap. Dayang-dayang istana berusaha menenangkan. "Usiaku baru 15 tahun, aku masih ingin belajar dan membaca lebih banyak buku. Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun!"

Sang putri pun meninggalkan mahligai dengan kesal.

Di kamarnya, putri merasa jenuh. Saat pertama kali bisa melihat, Ia memang sempat menikmati buku dongeng yang sudah lama tidak ia baca. Koleksi bukunya bukan hanya satu atau dua, ia punya puluhan buku dongeng yang sebagian besar adalah oleh-oleh sang Ayah, Robert Godwin, sepulang diplomasi politik antar kerajaan. Namun, kali ini buku tidak dapat mengobati kesepiannya. Ia rindu saat-saat Uther masih ada diluar jendela untuk bercerita. 

Akhirnya putri melompat keluar dari jendela dan berjalan-jalan sendiri. Karena cuaca sangat panas, ia berjalan menuju pohon apel dan duduk disana. Ia mencoba tiduran di rumput, dan kepalanya tak sengaja meniduri buku dongeng kumal milik Uther. Ia langsung terbangun, "Wah, ini sama persis seperti buku kesukaanku sewaktu kecil!" ia membolak-balik lembaran yang sudah mulai copot. "Ternyata memang benar, Neverland adalah negeri dongeng dalam buku ini!"

Awan mulai menutupi matahari, membuat cuaca menjadi agak sejuk. Putri menutup buku dan baru menyadari, ada banyak kuda di kejauhan yang sedang ditambatkan di pagar kayu. "Pasti Uther disana!" ia pun menyusulnya dengan berlari membawa buku sambil memanggil-manggil.

Uther yang sedang sibuk menyisir bulu kuda langsung terkejut dan berlari, sampai-sampai ia tak sengaja menjatuhkan barang-barang. Tak ada waktu lagi untuk membereskan, ia langsung menyelam kedalam tumpukan jerami untuk menyembunyikan diri.

"Yang manakah Pashmina?" ia bertanya pada diri sendiri saat melihat kuda dari dekat. Ia memeluk kuda cokelat putih yang tanpa ia tahu memang Pashmina. "Kuda ini paling anggun, eh, atau gagah ya, aku tidak tahu jenis kelaminmu. Tapi kamu keren!"

Putri Adeline kemudian masuk ke kandang kuda yang baunya persis bau Uther selama ini. Terlihat Uther menyembunyikan diri, tapi lupa menyembunyikan pantat dan kakinya. Sang putri menahan tawa setengah mati. Ia duduk di samping jerami."Apa kau merasa benar-benar sedang bersembunyi?"

Uther menyadari, dan akhirnya ia menyelam lebih dalam. Sang putri langsung terbahak.

 "Aku tahu kau bersembunyi karena takut dimarahi bukan?" putri bertanya lagi. "Uther, aku tidak marah sama sekali. Malahan kau seperti teman yang baik bagiku. Aku suka kisah-kisahmu---yang dari awal aku sudah tahu itu dari buku dongeng---tapi caramu menceritakannya sangat menghiburku. Selama aku buta, belum pernah ada yang berusaha menyenangkanku. Namun kau telah menjadikanku orang buta pertama yang berkuda. Itu luar biasa menyenangkan!"

Namun Uther tetap bersembunyi.

"Kembalilah, dan berceritalah lagi padaku kapanpun kamu sempat. Aku akan menunggu di jendela seperti biasa." kata sang putri lagi sambil meletakkan buku dongeng didepan jerami. Namun saat putri hendak berpamitan, suara pria yang dengan galaknya memanggil Uther, mengejutkan sang putri.

Uther melompat keluar dari jerami," Putri, cepat bersembunyilah! Itu suara ayahku!"

Tepat setelah sang putri sembunyi, Arthur, ayah Uther sudah sampai dan langsung memaki, "Dasar anak tak tahu diuntung! Beraninya kau mendekati putri Adeline!"

Uther hanya menunduk pasrah. 

"Kau tahu," lanjutnya. "Orang suruhan Ratu Wendeline datang tadi, dan apa yang dia lakukan!? Dia memperingatkan kau untuk menjauh dari sang putri. Kabar buruknya, kerajaan memutuskan tidak akan memberikan kita upah sebagai hukuman!" Arthur menggebrak meja, kuda-kuda pun meringkik ketakutan, bahkan putri Adeline juga menangis. "Bagaimana sekarang cara menghidupi keluarga kita? Bagaimana cara memberi makan Ibu dan adik-adikmu sekarang!? Tak ada pekerjaan untuk orang rendahan seperti kita! Kerajaan tak memberi kita makan! Kau harusnya tahu diri, Uther!" 

Sang Putri sudah tidak sanggup mendengar amarah ini. Seumur hidup ia belum pernah mendengar orang marah sekeras ini. Bahkan ayahnya sendiri tak pernah segalak ini. Putri keluar dari persembunyiannya dan membela Uther," Sudah cukup paman! Uther tidak melakukan kesalahan apa-apa, ia hanya bercerita padaku!" 

"Kau putri sialan!" Arthur mengambil kampak dan hendak mengejar putri, tapi Uther berusaha menahan tangan sang ayah. 

Ketika Sahabat Digital Berbalik Menjadi Musuh


Assalamualaikum. Readers, dewasa ini memiliki hp seakan memiliki dunia. Ketika kamu butuh hiburan ia menjelma bioskop saku, ketika butuh mainan ia menjelma konsol saku, ketika butuh musik ia bisa gantikan iPod dan Walkman, dan ketika mau bekerja ia bisa menjadi mesin tik atau alat menggambar. Dari hal 'tergelap' hingga hal tersuci seperti membantu mengaji pun ia bisa.

Namun imajinasiku bermain disini.. Bagaimana bila seandainya sahabat canggih ini berbalik menjadi musuh dalam selimut?

Dua kamera depan belakang, internet 24 jam, GPS yang langsung terhubung ke satelit, microphone dengan sensitivitas tinggi, aplikasi diary yang di backup ke cloud. Seketika membuatku merinding ketakutan. Aku merasa terus diawasi..

Bagaimana seandainya bila kamera ternyata aktif tanpa sepengetahuanku?

Bagaimana bila seandainya mereka mencuri dan mengunggah dataku saat aku tidur? Mereka punya akses mudah ke gallery dan sd card!

Bagaimana bila mereka tahu pasti dimana keberadaanku lewat satelit?

Bagaimana bila mereka membaca kelemahan dan rahasiaku dari backup di cloud?

Apakah proyek karya tulisku aman di cloud, apakah naskah brilian itu aman dari mereka yang hendak mencuri?

Microphone aktif 24 jam untuk mendengarkan "OK Google" dari jarak sejauh apapun. Berarti bukankah aku terus didengar diam-diam? Bagaimana bila pembicaraan penting direkam?

Aku mulai merasa paranoid!

Setiap hal yang aku cari di search engine juga disimpan. History browser juga disimpan lalu dijadikan data untuk menentukan iklan yang lebih akurat. Bagaimana bila hal itu disalahgunakan?

Kontak di ponsel juga diambil sebagai data untuk mencari teman yang relevan. Tapi bagaimana bila mereka sebenarnya bermaksud untuk mencari orang terdekatku?

Oh aku merasa benar-benar telah telanjang bulat. Bila sahabat canggihku ternyata adalah musuh dalam selimut. Aku takkan berdaya melawannya.

Berhati-hatilah readers! Mungkin nanti kamu juga akan ikut paranoid!

Wassalamualaikum