Ronald Knox: 10 Perintah Dalam Menulis Fiksi Detective

Assalamualaikum. Readers, Belakangan ini aku dapat pelajaran banyak sekali soal membuat cerita misteri setelah menonton anime Hyouka. Salah satu yang disebutkan oleh karakter utamanya ketika menganalisis cerita misteri adalah teori 10 Commandments of Detective Fiction yang dikemukakan oleh Knox.


FYI, Ronald Knox adalah penulis novel misteri yang terkenal di awal abad ke-20. The Viaduct Murder, Double Cross Purposes, Still Dead. Dia tergabung dalam Detection Club yang salah satu anggotanya adalah Agatha Christie.

Kalau kamu ingin menulis cerita detective, maka kamu harus mengingat beberapa hal ini (sengaja nggak diterjemahkan):

  • The criminal must be someone mentioned in the early part of the story, but must not be anyone whose thoughts the reader has been allowed to follow.
  • All supernatural or preternatural agencies are ruled out as a matter of course.
  • Not more than one secret room or passage is allowable.
  • No hitherto undiscovered poisons may be used, nor any appliance which will need a long scientific explanation at the end.
  • No Chinaman must figure in the story.
  • No accident must ever help the detective, nor must he ever have an unaccountable intuition which proves to be right.
  • The detective must not himself commit the crime.
  • The detective must not light on any clues which are not instantly produced for the inspection of the reader.
  • The stupid friend of the detective, the Watson, must not conceal any thoughts which pass through his mind; his intelligence must be slightly, but very slightly, below that of the average reader.
  • Twin brothers, and doubles generally, must not appear unless we have been duly prepared for them.

Tapi ngomong-ngomong, sebagian poin diatas sudah outdated untuk menulis fiksi saat ini. Terus ngapain diposting? Karena beberapa poin bisa dipelajari.

Semoga bermanfaat.





Sumber:

  • Gotham Writers. "Ronald Knox: 10 Commandments of Detective Fiction" https://www.writingclasses.com/toolbox/tips-masters/ronald-knox-10-commandments-of-detective-fiction (diakses pada 17/11/2017)

Persamaan antara Penulis dan Teko

Gambar: pixabay.com
Assalamualaikum. Aku masih ingat bahwa waktu belajar menulis dulu aku dinasihati tentang penulis itu diibaratkan seperti teko. Apapun yang tertuang dari dalamnya sangat bergantung pada apa yang mengisinya.

Jadi bisa dikatakan apa yang ditulis (yang dituang) oleh penulis adalah hasil dari apa yang dibaca (yang mengisi). Bila yang diisikan itu hal baik, maka yang tertuang pun juga akan baik. Begitu juga bila yang diisikan itu adalah hal buruk.

Kalau tidak bisa menuangkan apa-apa, itu mungkin karena tidak pernah diisi. Bagaimana caranya mengeluarkan isi dari sebuah teko yang kosong? Kecuali kita adalah pesulap.

Oleh karena itu banyak-banyaklah membaca. Bahkan bila kita tak bermaksud untuk menuangkannya, cepat atau lambat teko itu pun akan menumpahkan isinya sendiri bila sudah terlalu penuh.

Namun, ada juga pendapat yang sedikit berlawanan. Pendapat itu mengatakan bahwa jangan pilih-pilih dalam membaca. Katanya, bahkan buku yang buruk dan payah pun akan memberikan pelajaran tentang apa yang boleh atau tidak boleh ditiru.

Meskipun aku tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat kedua, aku berkaca dari kegiatan bloggingku selama ini. Apa yang aku baca pasti akan tertuang di blog: Saat aku banyak membaca buku motivasi, yang tertuang adalah artikel motivasi; Saat banyak membaca artikel religius, maka itu pula yang tertuang.

Dan ketika aku menemukan artikel yang tidak nyaman dibaca, aku pun belajar tentang apa yang sebaiknya ditulis atau tidak ditulis. Walaupun pernah aku terlarut membaca artikel semacam itu dan malah ikut menjadi buruk. Yeah, kita harus tetap berhati-hati.

That's it. Artikel ini diketik sebagai pengingat untuk diri sendiri. Sebab selama ini aku hanya menyimpannya dalam ingatan. Semoga bermanfaat untuk teman-teman juga. 

Wassalamualaikum.

Berakhir Sudah Golden Era Persib yang Bahkan Belum Dimulai

Assalamualaikum. Nyesek. Mungkin itu yang bisa aku katakan untuk performa Persib Maung Bandung musim ini. Sudah kalah, permainannya juga tak indah. Para fans dan manajemen saling menyalahkan, pemain pun juga ikut diseret. Huuff.. Aku sudah menahan diri cukup lama untuk menuliskan ini. Sekaranglah saatnya untuk diposting.


Sejujurnya dibalik kebanggan besar atas datangnya Essien, ada kekhawatiran besar yang sudah membibit didadaku. "Apa Persib tidak terlalu banyak menyetok gelandang tengah/bertahan?" pikirku. Sebab sudah ada Kim dan sang legenda, Hariono, ditambah lagi seorang Dedi Kusnandar.

Lebih parahnya lagi manajemen nggak peka ini membuang uang untuk beli Carlton Cole yang jelas sudah uzur untuk gantikan SVD yang sama uzurnya. Kalau untuk bisnis, rasanya Essien lebih ngefek. Tapi akhirnya peka juga dengan beli striker bagus, Ezechiel yang membuka debut dengan ciamik.

Persib dulu juga terlalu mengentengkan regulasi pemain U-23, akhirnya banyak pemain muda mentah yang mubazir di bangku cadangan. Sejauh ini yang ok hanya Febri Hariyadi, dan Henhen. Kalau Gian Zola dan Billy kelihatannya hampir 80% ok, tapi masih butuh 20% agar pantas jadi starter. Pas Febri dipanggil timnas langsung hancur performanya.

Padahal kalau klub tajir ini mau serius, mereka bisa alokasikan dana yang berlimpah untuk membajak pemain muda bersinar jauh-jauh hari, dan menambal lini yang lemah daripada membuang pemain yang sudah settle.

Orang awam pun tahu kalau terlalu banyak mendatangkan pemain baru itu nggak bagus. Sebab, para pemain itu butuh waktu adaptasi. Nah, kalau setiap tahunnya dibuang, kapan adaptasinya? Dulu Marcos Flores bagus kenapa dibuang? Mengapa banyak pemain bagus yang tidak terdeteksi oleh Persib?

Oh, aku tahu.. Dari pemberitaan media, dan desas-desus bobotoh: Manajemen terlalu banyak mengintervensi pelatih! Cobalah berkaca dari manajemen PSM yang dulu pernah mengatakan bahwa "Pelatih memberikan daftar pemain, dan kami manajemen bertugas untuk mendatangkannya."

Nah, dari sini aku bisa membaca bahwa meskipun Persib klub besar, mereka punya PR untuk merombak jajaran scout. Karena scout yang sekarang matanya kelilipan, sampai nggak bisa melihat pemain bagus!

Untuk WHU selaku manager, tolong jangan terlalu mencampuri urusan pelatih. Coba deh untuk percaya dan biarkan pelatih menentukan strategi dan pemain yang dibutuhkan! Pelatih yang dimaksud disini adalah pelatih asli, yang bukan boneka numpang duduk di bench!

Aku yakin Persib bisa kembali seperti semula kalau manajemennya sudah sehat, mata scoutnya juga jernih, dan pelatih leluasa berkerasi. Semua juga tahu itu. Dengan begitu juara bukan lagi target, tapi sebuah bonus.

Solusi

Dari sudut pandang seorang penggemar, aku menyarankan Persib mulai membangun klub dengan prospek jangka panjang. Jadi, bukan hanya beli pemain untuk sekedar satu musim.

Pertama, mulailah dari meningkatkan youth facilities. Mengapa? Coba cek berapa banyak pemain jebolan akademi Persib yang malah menjadi pentolan di klub lawan? Ibarat sebuah berlian, akademi Persib ini bisa menambang berlian tapi tidak bisa memoles dan memanfaatkannya. Padahal itu tugasnya akademi bukan?

Kemudian mulailah mempertimbangkan untuk mencoret pemain lama yang sudah habis masa, atau setidaknya aku harap bisa tahu diri seperti Rooney yang tidak mau makan gaji buta serta menghambat laju klub. Mereka harus tunjukkan kemauan untuk berjuang demi tempat utama, atau keluar. Beres bukan?

Sejauh ini aku lihat..
  • Para kiper sudah bagus, Deden dan Made bisa ganti-gantian tanpa ketimpangan. Agak kasihan sih dengan penjanga gawang ketiga yang tidak pernah diberi kesempatan.
  • Pertahanan juga sudah bagus, solid, walau kadang kurang aqua pada menit akhir babak kedua. Mungkin mereka harus mempertimbangkan pelapis Vlado. Bagaimanapun beliau sudah mulai tua, kondisi fisik pasti akan semakin turun.
  • Persib juga harus mulai mempersiapkan seorang bek sayap untuk melapis Supardi.
  • Gelandang tengah dan bertahan sudah kaya, Hariono, Kim Kurniawan, dan Dedi Kusnandar cukup. Essien bagus, tapi terlalu sayang mengorbankan pemain muda demi pemain yang sudah mau pensiun.
  • Gelandang sayap harus mulai mempertimbangkan membeli pendamping Febri dan Shohei. Sebab, Atep dan Tantan aku meragukannya.
  • Gelandang serang harus menjadi perhatian utama. Sebab, dulu Firman Utina dan Makan Konate adalah kunci kejayaan Persib. Tapi sekarang Maitimo bermain setengah hati. Persib harus pulangkan Makan Konate yang sekarang menolak bermain untuk klub manapun kecuali Persib. Selain itu juga butuh satu pelapis.
  • Kalau untuk striker sudah puas dengan adanya Ezechiel, walaupun dia masih perlu latihan finishing, tapi aku yakin dia tajam asal dapat suplai yang bagus. Namun, biar begitu kita masih butuh satu pelapis yang juga ciamik.

Pokoknya pemain di musim depan adalah proyeksi jangka panjang. Jadikan satu atau dua musim sebagai masa adaptasi bagi pelatih dan para pemain-pemain baru. Nah, pada tahun ketiga barulah mulai bisa menuntut juara.

Lah, terus bagaimana bobotoh yang nanti tidak sabar dan demo? Ya manajemen harus melakukan pengumuman bahwa bobotoh harus bersabar karena tim tersebut dalam masa adaptasi untuk proyeksi jangka panjang. Aku yakin mereka akan mengerti kok. Sebab, itu jauh lebih menjanjikan dari pada musim ini yang terlalu banyak drama.

Yeah, sekian dari saya bobotoh bau kencur. Berharap banget bisa dibaca manajemen. Ya semoga saja Persib bisa bangkit dari ketidakjelasan, dan semoga jangan degradasi ya, plis! Persib harus jadi wakil Indonesia di Piala AFC! Amin!

Wassalamualaikum.