The Introvert Universe (Bagian 1)




·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

BAB I: Si Penyendiri yang Malang

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Suatu malam saat hujan deras dan petir yang terus menyambar. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit di Bogor, "Paahh, perutku sakit!" keluh seorang Ibu hamil tentang kandungannya yang sakit pada suaminya.

"Sabar Mam, sebentar lagi kita sampai.." jawab suaminya, mengusap keringat istrinya sambil terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

Hujan semakin deras, membuat perjalanan semakin mencekam. Jalanan semakin terasa licin dan banyak lubang yang tak lagi dapat terlihat karena tergenang air hujan. "Pah, aku sudah tak sanggup lagi menahannya.." kata sang istri dengan lemasnya.

"Kuatkanlah, Mam. Perjalanannya tinggal sedikit lagi. Ditahan sebentar ya." jawab sang suami, menguatkan istrinya.

Setelah melalui perjalanan panjang yang menegangkan, sampailah mereka di Rumah Sakit. Bersama darah yang terus menetes, langsung dibawalah sang istri ke ruang bersalin. Hingga beberapa jam kemudian, tak terdengar sama sekali tangisan bayi. Namun, beberapa saat kemudian, Bu Dokter keluar dari ruang bersalin dan mengabarkan, "Selamat Pak, anak Anda lahir dengan selamat dan istri Anda juga selamat." kata sang Dokter, tersenyum.

"Alhamdulillah ya Allah!" ucap sang Suami.

"Tapi," senyum diwajah Bu Dokter memudar.

"Tapi apa, Bu?" tanya sang Suami, terkejut melihat kesedihan pada wajah Bu Dokter.

"Maaf Pak, anak Anda terlahir tanpa menangis dan ini sangat-sangatlah tidak wajar. Sepertinya anak Anda bisu, Pak.." jawab Bu Dokter dengan berat hati, lalu pergi meninggalkan sang Bapak.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dari ruang bersalin sambil menggendong bayi laki-laki. "Ini anak Bapak, silahkan.." kata sang perawat, menyerahkan bayi itu kepada Bapaknya.

Sejenak sang Bapak terdiam. Meskipun anaknya bisu, ia terharu melihat putra pertamanya telah lahir dengan selamat. Wajah bayi itu benar-benar terlihat sangat polos dan tak berdosa.

"Seperti apapun kamu. Kamu telah membuat Papa bahagia." ucap sang Bapak yang terlihat bahagia. "Papa namai kamu Rama Kusumaatmaja, nak. Sesuai dengan artinya, Rama adalah pemberi kebahagiaan.. Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang memberikan kami kebahagiaan.."

Sekilas terlihat kilatan cahaya biru dari mata sang bayi, tapi sang Bapak tidak memperhatikannnya. Lalu, sambil menangis terharu, sang Bapak pun melantunkan adzan di kedua telinga anak bayinya. Kemudian, ia mengembalikan sang bayi kepada perawat untuk kembali dirawat.


Beberapa tahun kemudian...

Rama tumbuh menjadi balita biasa yang ceria dan tidak bisu namun sangat pendiam. Rama tak pernah terlihat suka bermain dengan teman-temannya. Dia lebih suka menyendiri. Hingga semua orang menganggap Rama mengindap autisme. Namun, tak ada yang pernah menyadari bahwa Rama memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ia sering membuat benda-benda yang dimainkannya berterbangan. Ia juga pernah kecelakaan, namun keistimewaannya telah menyelamatkannya.

Ceritanya begini. Suatu hari, sang Mama mengajak Rama pulang kampung menyusul Papanya yang bekerja di Surabaya. Dalam perjalanan dengan bis malam, supir bis mengantuk dan kelalaian supir bis telah membuat bis masuk ke dalam jurang. Saat bis terguling-guling jatuh kedalam jurang, cahaya biru merambat keluar dari tubuh Rama hingga menyelimuti sang Mama. Cahaya itu melindungi Rama dan sang Mama dari kecelakaan. Padahal, tak satupun orang dalam bis yang selamat. Hanya dia dan sang Mama yang selamat. Sejak itulah, sang Mama menyadari dan percaya bahwa Rama memiliki keistimewaan yang tidak biasa.


Tahun demi tahun telah berlalu. Rama kini sudah tumbuh besar menjadi seorang remaja introvert yang kurus, culun dan sangat pendiam. Rama dikucilkan di lingkungannya karena keistimewaannya yang biasa mereka sebut sebagai keanehan. Rama sering dianggap penyihir atau dukun karena dia sangat pendiam dan selalu saja ada hal-hal magis yang terjadi disekelilingnya. Padahal, sebenarnya Rama hanyalah seorang remaja introvert yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan. Yeah, setiap orang yang memiliki kepribadian introvert pasti memiliki kelebihan yang luar biasa.

Pada suatu pagi di Sabtu yang cerah. Rama yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA Negeri 107 Bogor, berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada jalan lain yang bisa membuatnya lebih cepat sampai ke sekolahnya. Namun, Rama selalu memilih jalan yang lebih jauh karena jika ia melewati jalan yang jauh itu, ia akan melewati rumah cewek pujaan hatinya. Yeah, Rama adalah penggemar rahasia cewek ekstrovert yang memiliki nama Citra Kirana ini. Sayangnya, dia terlalu pendiam untuk mengungkapkan besarnya perasaan yang ia pendam sejak SMP.

Siang harinya. Bel sekolah berbunyi, saatnya pulang! Saat pulang sekolah di hari Sabtu adalah saatnya kegiatan ekstrakurikuler. Saat kegiatan ekrakurikuler itulah Rama bisa puas memandangi Citra dari kejauhan. Karena Citra sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikulernya, yaitu silat. Nah, biasanya setelah selesai latihan Rama sengaja berdiri diujung koridor sekolah, tujuannya sih untuk berkata 'Hai..' tapi yang selalu terjadi adalah, "Heh, apa lihat-lihat?" sela Citra, mendahului Rama yang ingin menyapanya.

Rama hanya menunduk, terdiam tak menjawab, bahkan tak berani sedikitpun kontak mata dengan Citra berserta teman-teman eskul silat Citra.

"Kayaknya lo selalu nungguin gue disini setiap gue latihan? Lo nantang gue?" tanya Citra dengan juteknya.

"I.. Iya." jawab Rama dengan bodohnya. Dasar pendiam, iya disini maksudnya 'iya, aku nunggu kamu' bukan 'iya, aku nantang kamu'.

*HAHAHA..!!*

Citra dan semua temannya mentertawakan Rama si kurus dan culun yang dianggap menantangnya bertarung silat. "It's oke deh. Gue mau bertarung, asalkan lo bisa mengalahkan Bono, sobat gue.." tantang balik Citra kepada Rama. Dengan tersenyum sinis, ia menyodorkan Bono si gemuk jago silat yang semakin membuat orang larut dalam tawa dan Rama semakin tenggelam dalam kecemasannya.

"B.. Bukan itu." jawab Rama dengan cemas melihat besarnya tubuh Bono dan membayangkan kehebatan silatnya. Tapi percuma saja beralasan apapun, semua orang sedang ramai mentertawakan Rama, hingga suara pelan Rama tak terdengar lagi.

Lalu, saat Bono maju, Rama langsung berlari dengan kencangnya sejauh mungkin dari sekolah. Namun, fisik Rama tidak sekuat itu untuk berlari dan akhirnya dia terpojok di taman komplek. "Hehehe.. Mau kemana lagi lo? Ayo, hadapi gue!" kata Bono, menakuti Rama.

Akhirnya, mau tidak mau Rama harus siap mempertanggung jawabkan kebodohannya sendiri. Rama melempar tas sekolahnya ke semak-semak dan langsung memasang posisi kuda-kuda yang salah. Selanjutnya, pertarungan akan segera dimulai dan Citra menjadi wasitnya. Rama dan Bono saling menjura hormat. Kemudian dimulailah pertarungan sangat tidak seimbang ini, antara semut dan gajah purba.

*Prok.. Prok.. Prok..* Teman-teman eskul silat Citra bertepuk tangan. mereka terlihat antusias menyaksikan pertarungan ini.

Tanpa bersuara, Rama langsung mencoba melepaskan tinju kepada Bono berkali-kali dan semuanya dimentahkan dengan mudahnya oleh Bono begitu saja.

"Ciaatt!!" Bono langsung membalas Rama. Ia melayangkan tinju kewajah Rama hingga Rama jatuh tersungkur. Inilah saat paling menakutkan karena Rama sudah tak berdaya lagi. Bono berlari dan lompat untuk menindih Rama dengan tubuhnya yang gemuk.

"Aahhh..!!" Rama hanya bisa pasrah dan sambil tersungkur menutup matanya. Namun, tiba-tiba ada cahaya biru muncul dari dari dadanya yang merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Lalu, Rama bangun dan bangkit lagi! Kali ini kemurkaan tergambar jelas diwajahnya! Tubuhnya diselimuti cahaya biru dan matanya mengeluarkan cahaya biru terang menakutkan!

Rama mencengkram leher Bono, menghentikan larinya dan mendorongnya sampai terjungkir berkali-kali hingga tersungkur di kaki Citra. Rama mengangkat kedua tangannya tinggi di udara, mengumpulkan cahaya biru lalu dengan sekuat tenaga menghantamkan tangannya ke tanah!

*DUUUMMMM...!!!!!*

Tanah disekeliling Rama menghentak dan membuat Citra serta teman-teman eskul silatnya terjatuh! Mereka pun ketakutan dan langsung berlari sambil mengejek Rama! "Dasar anak aneh! Penyihir lo!" teriak Citra sambil berlari dan mengusap air mata.

Setelah mendengar ejekan Citra tersebut, Rama mulai tersadar. Matanya tak lagi bersinar dan emosinya tak lagi meledak-ledak. Ia kebingungan melihat taman yang berantakan dan Citra serta teman-teman eskul silatnya berlari ketakutan. Kemudian ia menyadari, ia menduga bahwa ini semua disebabkan oleh keanehannya sendiri. Namun, keanehannya hari ini benar-benar semakin menguat dan menggila.

Setelah tenaganya pulih, ia langsung mengambil tasnya dari semak-semak taman dan pulang kerumah dengan perasaan galau.


Sampai dirumah. "Assalamuallaikum.." ucap Rama, lemas.

"Astagfirullah! Kenapa wajahmu nak?" tanya Mama Rama, memegangi wajah Rama yang babak belur dengan rasa khawatir.

"Tak apa Mam. Ini semua karena keanehanku lagi. Aku sedang tak ingin membicarakannya." jawab Rama dengan lesu, meninggalkan ruang tamu, lalu naik tangga dengan cepatnya dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.

Mama Rama hanya bisa terdiam mencemaskan keanehan anaknya itu yang semakin hari semakin menjadi-jadi.

Di dalam kamarnya, Rama berjalan mondar-mandir sambil terus memikirkan keanehan dalam dirinya yang semakin menguat dan menggila. Beberapa menit kemudian, Rama duduk didepan cermin tua yang sudah puluhan tahun tergantung dikamarnya. Lalu, Ia memandangi wajahnya yang babak belur dihajar Bono sepulang sekolah tadi. Sambil terus memperhatikan lukanya, ia mencelupkan jarinya kedalam sisa bekal air minumnya untuk mengompres lukanya. Tiba-tiba cahaya biru itu muncul diujung jarinya dan dengan cepatnya menyembuhkan luka-luka di wajah Rama. "Subhanallah!" ucap Rama terkejut dengan cahaya biru yang tiba-tiba muncul dari jarinya.


Keesokan paginya. Hari Minggu yang cerah, hari yang menyenangkan bagi Rama karena Papanya libur kerja dan bisa bersantai bersama keluarga. Rama dan kedua orang tuanya sedang sarapan pagi di ruang makan.

*Tok! Tok! Tok!*Ada tamu yang mengetuk pintu "Assalamuallaikum.."

"Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" tanya Rama dalam hati sambil melihat arlojinya yang masih menunjukan pukul enam pagi. Seperti biasa, jika ada tamu Rama pasti langsung masuk ke kamarnya.

Kemudian Papa Rama membukakan pintu rumah dan ia terkejut dengan kedatangan Pak RW. "Waallaikumsalam. Silahkan masuk Pak." kata Papa Rama mempersilahkan tamunya. Setelah semua duduk..

"Ada perlu apa ya Pak? Kok pagi-pagi begini datang ke rumah saya." tanya Papa Rama, bingung.

"Maaf mengganggu Pak. Ada hal penting yang harus kami sampaikan." jawab Pak RW. "Sebenarnya kami ingin menyampaikan keluhan warga komplek yang merasa resah karena kehadiran anak Bapak dan menginginkan ia pergi meninggalkan komplek ini." lanjut Pak RW dengan beratnya.

"Apa!? Apa salah anak saya!?" tanya Papa Rama lemas, tidak percaya.

"Maaf, kemarin warga melihat Rama mengamuk di taman dan keistimewaan anak Bapak ini membuat warga resah dan takut dilukai, Pak." jawab Pak RW dengan berat hati.

Papa dan Mama Rama terlihat begitu bersedih mendengarnya. Rama yang mendengar percakapan dari kamarnya pun merasa sangat terpukul dan frustasi!

"Saya mengenal Rama dan keistimewaannya sejak ia kecil. Namun kali ini keistimewaannya telah berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan. Saya tidak dapat menolongnya lagi, Pak.." lanjut Pak RW yang terlihat menyesal.

Mendengar pernyataan Pak RW tersebut, Rama semakin merasa terpukul dan semakin frustasi. Pernyataan itu membuat Rama merasa sangat-sangat marah pada dirinya sendiri! Lalu, tiba-tiba cahaya biru itu muncul dari dadanya dan merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya! Matanya kembali bersinar biru terang menakutkan! Lagi-lagi Rama tidak dapat mengendalikan keistimewaannya!

*BRUAAGGHHKKK!!* Rama menghajar pintu sampai terpental, mengejutkan semua orang dibawah. Kemudian, dengan cepatnya Rama turun ke lantai bawah. Lalu, dari kejauhan ia mencengkram leher Pak RW dengan sihir cahaya biru di kedua tangannya.

Bersambung..

Klik disini untuk lanjut membaca cerita The Introvert Universe (Bagian 2).


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..