The Introvert Universe (Bagian 2)



"Arrrgggh!!" Pak RW berteriak kesakitan karena cengkraman sihir Rama pada lehernya yang semakin menguat.

"Sudahlah nak, Pak RW tidak bersalah! Tolong lepaskan!" bujuk Mama dan Papa Rama tanpa henti-hentinya. Mendengar suara orang tuanya, Rama mencoba untuk sadar diri sepenuhnya. Akhirnya cahaya biru mulai meredup dan cengkraman sihirnya mulai melemah.

"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini sebelum ada warga yang terluka!!" kata Pak RW memperingatkan mereka dan kemudian pergi semakin menjauh.

Rama tertunduk. Ia terus terbayang-bayang kata-kata Pak RW yang benar-benar menyakiti hatinya dan membuatnya semakin marah pada keanehan yang dianggapnya tidak berguna. Papa dan Mama Rama terus menenangkannya. "Sabar nak, Papa dan Mama yakin Tuhan punya jalan terbaik untuk kita." kata Mama Rama sambil mengusap kepala Rama.

Tanpa menjawab, Rama bergegas pergi ke kamarnya sambil menitikan air mata. Ia menenangkan diri di tempat tidurnya sambil membuka jejaring sosial dengan ponsel jadulnya. Ya, kurang lebih seperti itulah hal wajib yang akan selalu dilakukan para introvert seperti Rama. Biasanya, jika Rama sedang mengalami masalah yang sulit, selain berdoa pada Tuhan, ia juga bercerita pada teman-temannya sesama introvert di sebuah grup Facebook yang bernama KAP (Komunitas Anak Pendiam).
Catatan penulis: Karakter Rama memang fiktif. Namun, grup KAP (Komunitas Anak Pendiam) memang benar-benar ada di dunia nyata. Bagi yang merasa senasib dengan Rama bisa join juga loh. Monggo dilanjutkan membacanya..

Rama menceritakan seluruh kejadian gila yang dialaminya beberapa hari ini kepada seluruh anggota grup. Banyak sekali yang menanggapinya dan memberikan dorongan positif. Namun, ibarat titik hitam diatas kertas putih, perhatian Rama justru tertuju pada titik hitam tersebut daripada luasnya kertas putih. Titik hitam itu adalah sebuah bully dari seseorang yang mungkin bukan introvert, yang menganggap introvert itu lemah dan orang ini ingin mempermainkannya. "Sudahlah Rama, realistis saja hadapi kenyataanmu. Ini nyata bahwa kamu memang membahayakan orang lain. Lebih baik kamu tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi sebelum kamu membunuh mereka semua. Hahaha!" begitulah isi komentarnya.

Admin-admin KAP (Komunitas Anak Pendiam) memang cukup tanggap dalam mengatasi orang gila semacam ini. Tak sampai semenit orang ini sudah ditendang dari grup. Tapi, Rama terlanjur membaca komentarnya dan emosi Rama mulai terbakar. Ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu di depan cermin tua Rama memaki dirinya sendiri. "Kenapa kamu hidup? Kenapa kamu tidak mati saja? Aku lelah dipermalukan! Aku tidak ingin mereka yang kusayangi mati ditanganku!!" kata Rama yang terus memandang hina kepada dirinya didepan cermin. Ia semakin terlihat cengeng dan dianggapnya tidak berguna. Kekesalannya tak dapat dihindari lagi. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga cahaya biru itu muncul ditangannya dan terlihat menyala seperti api!

*PRANNGGGG!!!!*

Rama meninju cermin tua itu. Ia melampiaskan kekesalannya hingga cermin besar itu hancur dan kerangkanya tertanam di dinding! Namun energi yang dihempaskan Rama begitu besarnya hingga memantul dan menghantamnya kembali hingga terpental menabrak dinding dibelakangnya.

*BRUAGHH!!*

"Aagghh..!!" jerit Rama, merasakan kesakitan yang luar biasa dipunggungnya hingga ia merasakan darah mengalir dari hidung dan tangannya. Dengan susah payah Rama bangun. Ia terkejut melihat cermin yang ia yakini sudah hancur tapi ternyata cermin itu masih utuh! Rama memeriksa tangannya yang berdarah. Ia menemukan pecahan kaca menancap di jari-jarinya. Namun, kenyataannya cermin itu masih utuh hanya saja kini tertanam di dinding. Ia berjalan mendekati cermin dan menyentuhnya dengan jarinya. Tak disangka, jarinya malah menembus cermin dan saat ia menarik jarinya, terjadi gelombang lingkaran yang melebar seperti genangan air. Lalu, karena merasa sangat penasaran, dengan hati-hati ia memasukan kepalanya kedalam cermin. Wow, ia tak menyangka ada lorong yang terlihat cukup panjang dibalik cermin.

"Rama!!" teriak Papa Rama yang khawatir, mencoba masuk ke kamar namun entah kenapa pintu kamar terkunci dengan sendirinya.

Mendengar suara Papanya, ia merasa panik dan menarik kepalanya keluar dari cermin. Rasa penasaran terus mendorongnya untuk menyusuri lorong dibalik cermin. Dengan terburu-buru ia menyeka wajahnya, mengobati lukanya dan menyapkan segalanya. Ia mengeluarkan semua alat sekolah dari tasnya, kemudian mengisi tas itu dengan berbagai alat penting. Termasuk diantaranya beberapa makanan ringan, ponsel jadulnya—untuk keadaan darurat—dan banyak benda lainnya hingga menyesakan isi tasnya. Tanpa ragu lagi ia memasuki cermin untuk memulai perjalanann panjangnya.

Sementara itu, tepat disaat Rama telah masuk kedalam cermin, pintu kamar yang terkunci tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Lalu, karena melihat hancurnya kamar Rama, jelas membuat sang Papa sangat terkejut. Ia mencari anaknya disetiap sudut kamar bahkan sampai memeriksa diluar jendela kamar, namun tak ada tanda keberadaan anaknya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa tas Rama, beberapa potong pakaian dan berbagai benda hilang dari kamar Rama. Sang Papa benar-benar khawatir, ia mengira bahwa anaknya telah melarikan diri dari rumah.

Di dalam lorong, Rama mengedip tak percaya melihat peri biru yang tak lebih tinggi dari jengkalnya dihadapannya. Peri itu memiliki sayap dan berpijar seperti peri dalam buku cerita. Peri itu tak bisa bicara, ia hanya menunjuk ujung lorong dan memproyeksikan gambaran dunia dengan pemandangan indah yang sepertinya bukan pemandangan Bumi.

"Ah, aku mengerti maksudmu." gumam Rama. Ia berfikir bahwa peri ini akan menyelamatkannya dari kejamnya Bumi. Ia berfikir untuk mengajak kedua orang tuanya. Tanpa berfikir panjang, ia kembali menuju cermin besar yang melayang dibelakangnya. Namun, saat ia mencoba masuk, sia-sia saja karena cermin itu telah kembali menjadi cermin biasa. Lalu, peri biru menyentuh pundak Rama, kemudian menujuk ujung lorong lagi dan langsung terbang melesat ke ujung sana. Dengan perasaan menyesal, Rama berlari mengikuti sang peri. "Selamat tinggal orang tuaku tersayang." ucapnya dengan mata berkaca-kaca..


Setelah berlari cukup jauh, kini ia telah sampai diujung lorong. Ia melihat pintu dengan cahaya menyilaukan. Peri itu masuk kedalamya. Dengan takut-takut Rama mengikuti peri biru, masuk kedalamnya. Pintu yang ia masuki ternyata adalah sebuah portal yang entah menuju kemana! Sehingga ia terhisap, kemudian melesat dengan kecepatan ekstra tinggi sambil terus berputar-putar didalamnya. Lalu, karena portal ini telah membuatnya merasa mual, pusing, sakit—ia merasa seluruh bagian tubuhnya seperti terlepas satu sama lain—dan akhirnya ditengah perjalanan ia hilang kesadaran.

"Bangunlah Rama." seseorang menyadarkan Rama.

Rama membuka matanya, ia terkejut melihat dirinya terbangun diatas pulau awan. "Si.. Siapa kamu?" tanya Rama kepada bayangan biru tua setinggi dirinya yang berdiri memunggunginya.

"Aku ini adalah dirimu." jawab si bayangan biru dengan nada yang datar.

Rama bangkit, berjalan mendekati si bayangan biru. "Apa kamu yang telah menyulitkan hidupku dengan semua kegilaan cahaya biru bodoh ini!?" bentak Rama. "Aku benar-benar sudah muak dengan keanehan ini!!"

Bayangan biru itu menoleh. "Aku tidak menyulitkanmu. Aku hanya membantu." jawabnya dengan datar, sambil membuat sebuah bola cahaya biru ditangan kanannya. "Suatu saat kau akan mengerti dan menjilat ludahmu sendiri, Rama." imbuhnya cepat. Bayangan biru itu berbalik badan lalu menghantam Rama dengan bola cahaya biru.

*DAAASSHH!!*

"Aaggghhh!!" jerit Rama. Bersamaan dengan itu, pulau awan dan bayangan biru itu dengan cepat memudar dari pandangannya. Ia kembali ke dalam portal, melesat dengan kecepatan ekstra tinggi sambil berputar-putar dan kembali merasakan kegilaan dari rasa sakit lagi. Melanjutkan perjalanannya menuju antah brantah.

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

BAB II: Kehidupan yang Lain

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Setelah beberapa menit, jam, atau bahkan hari terombang-ambing didalam portal dengan kecepatan ekstra tinggi, beberapa detik lagi Rama akan berhasil keluar dari portal. Jalan keluar dari portal bisa muncul dimana saja, bahkan dibawah laut sekalipun. Sialnya, jalan keluar dari portal yang dilalui Rama muncul diatas langit. Rama pun jatuh dari langit yang sangat tinggi. Cahaya biru merambat hingga menyelimuti tubuhnya dan ia melesat dengan kencangnya sehingga terlihat seperti meteor biru yang menabrak awan-awan yang ada dibawahnya!

*DUUMMM..!!*

Rama mendarat di padang rumput yang terbentang luas dengan kerasnya sampai membuat cekungan ditanah. Beruntung cahaya biru muncul tepat waktu sehingga Rama tak merasakan sakit yang parah meskipun ia terjatuh menghantam tanah dengan begitu kerasnya. Tapi rasa mual dan pusing saat dalam perjalanan tadi sudah tak bisa ditahan lagi. Rama pun memuntahkan sarapan yang ia makan entah beberapa menit, jam, atau bahkan beberapa hari yang lalu dirumahnya. Akhirnya, Rama terbaring lemah diatas rerumputan, ia terlelap hingga malam tiba.


Hari sudah malam dan langit semakin gelap. Hanya sinar bulan yang menerangi padang rumput. Rama yang sedang terlelap kelelahan, terbangunkan oleh tanah yang bergetar. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan langsung memperhatikan sekitarnya dengan awas.

*Srekk.. Srekk.. Srekk..* Sesuatu bersembunyi dibalik rumput sehingga membuat rumputnya bergerak dan gerakannya selalu berpindah-pindah. Rama mengambil ponsel dari tasnya dan menggunakan lampu flash kamera di ponselnya untuk menerangi rumput yang bergerak.
Sesuatu yang bersembunyi dalam rerumputan itu sepertinya terganggu dengan lampu flash, sehingga gerakanya semakin lama semakin cepat. Jaraknya juga semakin mendekat. Kemudian, pada saat jaraknya sangat dekat—kurang lebih 10 meter—dengan Rama, makhluk itu berhenti bergerak sehingga suasana sunyi kembali.
Rama ingin memastikan bahwa makhluk itu sudah menghilang. Ia memungut sebuah batu kerikil dan langsung melemparnya ke tempat berhentinya makhluk misterius itu.

*TUK!*

"GRAAWWRR..!!" makhluk itu menggeram. Melompatlah sesosok makhluk besar yang mirip seperti ular—dengan panjang 20 meter, diameter 50 cm, berkulit kasar seperti batu, dan mata merah menyala yang mengerikan—dari rerumputan. Kemudian ia langsung mengejar Rama dan Rama berlari sekencang-kencangnya menuju hutan yang jaraknya terlihat cukup jauh. "Woaahh. Maaf aku tadi tidak bermaksud menyakitimu!" teriak Rama seakan makhluk itu akan mengerti ucapannya.

*SRASHH.. SRASHH.. SRASHH..!!* Makhluk itu terus mengejar Rama dan sesekali ia melibaskan ekornya hingga memotong rerumputan yang dilangkahi Rama. Rama terus melompat setinggi-tingginya untuk menghindari ekor makhluk itu. Namun usaha Rama percuma saja, makhluk itu terlalu besar untuk dihindari olehnya. "AAARRGGGHH..!!!" Rama pun akhirnya terlibas ekor makhluk itu, lalu terlempar hingga masuk ke hutan dan jatuh menabrak tumpukan bebatuan besar yang licin dan berlumut.

Bersambung..


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..