The Introvert Universe (Bagian 3)



"Aaarggh!" kaki kanan Rama terbentur batu dengan kerasnya sehingga membuatnya tak bisa berlari menyelamatkan diri.

Rasa sakit dan takut kini bercampur menjadi satu saat makhluk besar itu menegakkan kepalanya. Rama hanya bisa memejamkan mata dan pasrah melihat makhluk besar itu akan menghabisinya!

"Grawwrr!" makhluk besar menggeram dengan kerasnya hingga mengeluarkan bau terbusuk yang pernah dicium oleh Rama. Namun, bukannya menghabisi Rama, makhluk itu malah bergerak mundur dan menjauh, seakan enggan berlama-lama memasuki hutan yang gelap dan menyeramkan ini.

"Fyuh.. Syukurlah." gumam Rama, sambil mengusap keringatnya.

Rama bangkit dan memandangi keadaan sekitar dari atas bebatuan. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon Oak yang sangat besar tumbuh dimana-mana. Ia pun menuruni bebatuan dan berjalan menyusuri hutan, berharap menemukan rumah penduduk sekitar. Tapi karena kakinya terasa sakit, ia harus mencari sesuatu untuk ia gunakan sebagai tongkat, agar ia bisa terus berjalan.

Tak lama kemudian ia menemukan sebuah tombak usang yang telah dirambati tanaman liar tertancap ditanah dan ia mencabutnya lalu menjadikannya tongkat. Dengan tongkat barunya, ia kembali menyusuri hutan yang dingin dan lembab ini tanpa harus berjalan terpincang-pincang.


Malam semakin larut. Lolongan serigala membelah kesunyian malam, diikuti lolongan serigala lainnya, membuat Rama menjadi panik. Rasa cemas memaksa kakinya yang cedera untuk mempercepat langkahnya.

Seekor serigala bermata biru menyala berjalan di antara semak belukar sambil terus mengendus-endus tanah di sekitarnya hingga jaraknya semakin dekat dengan Rama. Rama berjalan mengendap-endap bersembunyi dibalik lebatnya akar pohon Oak yang besar untuk menghindari serigala itu. Namun usaha Rama sia-sia. Jarak sang serigala semakin dekat saja hingga kini serigala itu berdiri tepat didepan Rama! Ia menggenggam erat tombak usangnya, menyiapkan diri atas segala kemungkinan serangan dari sang serigala.

"Grawwrr!!" sang serigala langsung melompat untuk menerkam Rama. Lalu, tepat disaat serigala itu melompat, dengan nekat Rama menghunuskan tombak usangnya tepat di perut sang serigala! Hingga mereduplah cahaya pada mata sang serigala dan mengalirlah darah biru dari perut serigala itu. Serigala itu telah mati!

Tapi, kenekatannya membunuh sang serigala ternyata membawanya kedalam masalah baru. Serigala-serigala lainnya muncul dari balik semak belukar. Jumlahnya sangat banyak! Mereka berjalan perlahan mendekat sambil terus menyoroti Rama dengan tatapan penuh kebencian, hingga akhirnya mereka mengepung Rama!

"Mati aku! Bagaimana aku bisa melewati mereka!?" fikir Rama, sambil bergidik ketakutan, menggengam erat tombak usangnya.

Para serigala merundukkan kepala, menjejakan kedua kaki belakangnya. Kemudian, mereka segera menghentakkan kakinya dan melompat sekencang-kencangnya kearah Rama. Dengan sigap Rama berputar sambil menghantam kepala mereka dengan tombak usangnya, hingga beberapa dari mereka terjatuh! Namun, hantaman Rama yang tak bertenaga itu tidak berpengaruh apa-apa bagi mereka. Mereka langsung bangkit dan menerkam Rama!

Kini Rama hanya bisa bergelut didalam terkaman para serigala. Bertubi-tubi cakaran dan gigitan telah mendarat kepada Rama! Pakaiannya tercabik-cabik, kulitnya penuh luka dan berlumuran darah, tapi ia masih terus berusaha bangkit. Sebisa mungkin ia membebaskan diri dari kepungan para serigala. Hingga akhirnya ia merasa sangat-sangat kesal karena kesulitan membebaskan diri, dan kekesalannya telah memancing cahaya biru dari dadanya muncul disaat yang tepat! Cahaya biru itu merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya!

Rama bangkit dan langsung menghantam satu per satu serigala dengan pukulan yang dahsyat! Keadaan langsung berbalik. Rama menyoroti para serigala dengan tatap mata penuh kebencian, sedangkan sebagian besar serigala telah berlari ketakutan. Kini hanya tersisa 14 ekor serigala bertubuh besar yang masih bertahan untuk menyerang Rama. Tanpa membuang waktu, Rama berlari meninggalkan mereka. Para serigala pun tak tinggal diam. Mereka segera berlari mengikuti Rama.

Cahaya biru telah membuat kecepatan lari Rama bertambah hingga 5 kali lipat kecepatan lari manusia biasa. Rama berfikir bahwa para serigala tak akan sanggup mengimbangi kecepatan larinya. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Dalam dunia antah berantah ini, serigala memiliki kecepatan lari yang sangat tinggi. Kini para serigala berlari tepat dibelakangnya. Berkali-kali mereka mendaratkan cakaran yang mengarah ke tubuh Rama, semakin melukai tubuhnya. Namun, serangan mereka tak menghentikan pelarian Rama, hingga akhirnya Rama dan para serigala masuk semakin dalam kedalam hutan.


Beberapa jam kemudian. Langit gelap yang kelam kini perlahan berganti menjadi birunya langit pagi. Udara semakin dingin hingga terasa menusuk tulang. Rama masih terus berlari dari kejaran para serigala beringas itu.

Rasa takut perlahan telah menggeser kekesalan dihati Rama. Cahaya biru yang menyelimutinya perlahan mulai memudar dan kecepatan larinya semakin berkurang. Namun, ia berusaha untuk tetap terus berlari karena jalan keluar dari hutan sudah sangatlah dekat. Rama bisa melihat ada beberapa manusia dan bahkan tak jauh dari sana, ada sebuah desa.

"Tolong..!!" seru Rama, berharap mereka mendengar dan akan menolongnya.

Sementara itu, beberapa orang yang Rama lihat adalah seorang Kakek yang sedang mengajari kedua cucu remajanya berlatih. Kakek itu mengenakan jubah putih serta membawa sebuah tongkat kayu. Sedangkan kedua cucunya—seorang lelaki dan seorang perempuan—mengenakan jubah dengan warna perpaduan antara hijau daun dan cokelat pohon.

"Kamu teruskan yang telah kakek ajarkan tadi, kamu harus..." sang kakek menghentikan pembicaraanya karena merasa mendengar sesuatu.

Dari kejauhan, Rama kembali berteriak, "TOLONG..!!!" dengan semakin kerasnya.

Sang kakek berjalan beberapa langkah, lalu berdiri menghadap hutan. Ia menghentakkan tongkatnya ketanah lalu memejamkan kedua matanya, mencoba menerawang hutan dengan sihirnya. Cahaya hijau muncul pada dahinya. Tak berapa lama kemudian, cahaya hijau telah padam dan ia kembali membuka mata. "Ah! Ternyata para serigala kembali berulah!" fikir sang Kakek, terkejut.

Kedua cucunya berjalan menghampiri sang Kakek, "Ada apa, Kek?" tanya kedua cucunya, khawatir.

"Kalian berdua, cepat panggil Laskar Penjaga Desa serta himbau semua warga untuk masuk kedalam rumah, kunci pintu dan tutup jendela. Sekarang!" perintah sang Kakek.

"Siap, Kek!" jawab mereka berdua, lalu segera mereka berlari menuju desa dan sang Kakek berjalan cepat menuju tepi hutan.

Sementara itu di dalam hutan. Cahaya biru yang menyelimuti Rama semakin menipis hingga akhirnya cahaya itu benar-benar padam. Akibatnya Rama kini bisa merasakan seluruh rasa sakit yang tidak terasa sebelumnya, karena efek sihir cahaya biru tadi telah meredam rasa sakit Rama untuk sementara waktu. Kini, karena luka pada tubuh Rama sangatlah banyak, ia tak lagi sanggup berlari dan akhirnya ia terjatuh tepat di kaki sang Kakek.

"Astaga! Bertahanlah nak!" seru sang Kakek yang terkejut melihat Rama yang terluka parah. Kemudian, sang kakek segera menempatkan Rama dibelakangnya. Perhatian para serigala bermata biru itu kini beralih kepada sang Kakek. Mereka menyoroti sang Kakek dengan penuh kebencian karena telah menghalangi mereka dari mangsanya.

3 ekor serigala yang paling kecil merundukkan kepala, menjejakkan kedua kaki belakangnya kuat-kuat lalu melompat untuk menyerang. Sang Kakek mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, lalu menghentakkannya ke tanah. Tongkat kayu itu langsung mengeluarkan kilatan cahaya hijau yang menyambar tepat mengenai 3 serigala kecil itu hingga menewaskan mereka!

"Graawwrr!!" serigala lainnya murka dan langsung melompat untuk menyerang sang kakek. Tepat disaat mereka melompat, hujan anak panah menjatuhkan mereka. Laskar Penjaga Desa berjubah kelabu telah memanah mereka! Namun, para serigala itu masih sanggup bangkit dan segera menyerang Laskar Penjaga Desa!

"Sial! Mereka bukan serigala biasa!" seru salah seorang penjaga desa. "Mereka adalah serigala terlatih. Kita harus sangat berhati-hati!"

Para penjaga desa memantrai busur panahnya dan mulai memanahi 11 serigala yang tersisa. Tapi, dengan lincahnya para serigala terlatih ini menghindari hujan panah sihir itu! Lalu para serigala mulai menerkam dan mencabik-cabik Laskar Penjaga Desa dengan membabi buta.

Sementara itu sang kakek sedang diserang oleh seekor serigala yang tubuhnya paling besar. Kakek itu mengisi tongkatnya dengan cahaya hijau hingga menghabiskan tenaga yang tersisa, lalu menghantam serigala itu dengan tongkat kayunya!

*DUUMMB!!*

Serigala itu terbanting dengan dahsyatnya. Namun, serigala itu bangkit lagi! Laskar Penjaga Desa pun telah ditumbangkan oleh para serigala. Kini sang Kakek harus bertarung seorang diri dengan tenaganya yang sudah terkuras. Para serigala berbaris beberapa meter didepan sang Kakek. Mereka menyeringai penuh kemenangan.

Sang kakek akhirnya memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi melindungi desa. Ia memasang kuda-kuda, menggulung lengan jubahnya, lalu memaksa dirinya mengeluarkan tenaga yang tersisa. Ia memejamkan matanya, lalu melakukan gerakan tangan yang terlihat seperti tarian, diikuti dengan cahaya hijau yang mengekor pada kedua tangannya. Angin berhembus lembut, rerumputan dan tumbuhan bergerak mengikuti gerak tangan sang Kakek.

Para serigala sudah tak sabar ingin menghabisi Kakek itu dan mereka pun berlari sekencang-kencangnya untuk menyerang sang Kakek. "GRAAWRR!!" geram mereka yang sudah haus darah!

Sang kakek menengadahkan kedua tangannya, lalu dengan keras ia menghentakkan kakinya dan *ZAP!* kemudian ia menusukan tangannya keudara. Tiba-tiba akar pepohonan muncul dari dalam tanah dan menghunuskan ujung teruncingnya pada dada para serigala hingga menewaskannya! Namun, dengan sigap serigala yang paling besar berhasil melompat menghindari akar runcing sang Kakek! Lalu dengan cepatnya serigala itu mendaratkan cakarannya pada dada sang kakek!

*SCRATCH!!*

"Woah!!" teriak sang Kakek, kesakitan. Sang kakek jatuh berlutut dan mengalirlah darah biru dari dadanya.

*JEDUAGH!!* Tiba-tiba, Rama yang diselimuti cahaya biru meninju serigala besar itu hingga terpental beberapa puluh meter dan menabrak pohon Oak dengan kerasnya!

Sang kakek benar-benar terkejut, "Astaga nak! Bagaimana kamu bisa bangkit?" seru sang Kakek kepada Rama. Namun Rama tak menjawabnya.

Serigala itu bangkit dengan lemah. Matanya berubah menjadi merah, tubuhnya diselimuti cahaya merah. Ia mengumpulkan kekuatan cahaya merah di kepalanya, dan kemudian berlari sekencang-kencangnya kearah Rama

"Cahaya merah itu!? Tidak mungkin!" gumam sang Kakek. "Nak, berhentilah. Serigala itu bisa membunuhmu!" seru sang Kakek memperingati Rama.

Rama mengabaikan peringatan sang Kakek. Segera ia mengumpulkan cahaya ditangan kanannya hingga membentuk bola cahaya biru yang lumayan besar, dan kemudian ia berlari sekencang-kencangnya kearah serigala. Hingga akhirnya cahaya biru dan merah saling bertabrakan!

*DUAMMM!!*

Terjadilah ledakan yang dahsyat! Rama terjungkir berkali-kali kebelakang dan sang Kakek menangkapnya. Sedangkan sang serigala sempat mencengkram tanah sehingga tidak terhempas. Tanpa membuang kesempatan, serigala itu kembali berlari. Namun, Rama sempat mengambil anak panah milik penjaga desa disebelahnya dan ia melesatkan panahnya dengan kekuatan cahaya biru!

*Wusshh!* Anak panah itu melesat dan cahaya biru mengekor dengan indahnya. *JLEBB!* Akhirnya anak panah itu berhasil menancap tepat pada jantung sang serigala. Padamlah cahaya merah pada tubuh sang serigala yang paling besar itu dan tewaslah dia!

"Luar biasa kekuatanmu, nak!" seru sang Kakek, tidak percaya. "Terimakasih, kau telah menyelamatkanku."

Rama yang masih diselimuti cahaya biru tak menjawab. Ia berbalik badan, menatap sang kakek dengan tajam. Ia mengumpulkan sedikit cahaya biru ditangan kanannya.

"Apa yang akan kau lakukan nak?" kata sang Kakek, merasa takut dirinya akan dibunuh oleh Rama.

Sang kakek melangkah mundur. Namun, belum sempat melangkah, Rama sudah memegang erat sang kakek dengan cengkraman sihirnya. Sang kakek yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah. Kemudian, Rama mengusapkan cahaya biru pada luka di dada sang Kakek dan sembuhlah luka itu.

"Lukaku sembuh!" ucap sang Kakek gembira. "Terimakasih, aku behutang nyawa padamu!"

Rama tak menjawab. Tiba-tiba, cahaya biru pada tubuhnya padam seketika, ia langsung terjatuh tak sadarkan diri tapi sang kakek terlebih dulu menangkapnya. "Dingin sekali tubuh anak ini." gumam sang Kakek. "Apa jangan-jangan!?"

Segera sang kakek memeriksa denyut nadi Rama. "ASTAGA! NADINYA TIDAK BERDENYUT!"

Bersambung..


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

1 komentar:

  1. ku kira si kakek yg bakal menyembuhkan rama :3 tapi ternyata malah ramanya yg nyembuhin kakek itu :3

    BalasHapus

Monggo berkomentar dengan sopan..