Persamaan Antara Jamu dan Agama


Readers, pernahkah kamu minum jamu? Apakah rasanya pahit dan tidak enak? Ya tentu saja kamu pasti pernah meminumnya walaupun hanya sesekali seumur hidupmu. Dewasa ini, budaya meminum jamu semakin hari semakin berkurang peminatnya. Terutama generasi muda seperti kita ini yang hampir benar-benar meninggalkan jamu. Karena didalam fikiran kita sudah terlanjur menganggap bahwa budaya meminum jamu itu ketinggalan zaman. Sama seperti agama yang hampir benar-benar kita tinggalkan. Karena didalam fikiran kita sudah terlanjur tertanam mentaati agama itu norak dan kampungan untuk era yang sudah modern. Mari kita ingat, kapan terakhir kali kita ibadah.

Selain itu, kenapa kita meninggalkan budaya meminum jamu? Karena kita sudah lebih dulu dihantui rasa pahit, bau pengar dan tidak enaknya rasa jamu. Padahal tidak semua jamu itu pahit, ada juga yang rasanya manis atau tawar. Lagipula dibalik rasa pahit, manis dan tawar tersebut ada khasiat yang luar biasa dan itu lebih menyehatkan jika dibandingkan dengan obat kimia.
Begitu juga dengan syariat agama kita. Saat mendengar syariat-syariat agama dari para da'i, kita sudah lebih dulu dihantui dengan betapa sulit untuk menjalankan syariat-Nya. Padahal tidak semua syariat-Nya itu pahit, ada juga yang manis dan tawar. Lagipula semua tahu bahwa Tuhan itu mahabesar, maka dibalik pahit, manis dan tawar pada syariat-Nya pasti ada manfaat yang sudah dipersiapkan oleh-Nya.

Masih soal pahitnya jamu. Jika kita melihat para peminum jamu, kita akan takjub dengan betapa kebalnya lidah mereka dari rasa pahit. Coba tanyakan kepada, apakah mereka juga merasakan tidak enaknya rasa pahit? Tentu mereka tidak akan menyangkal bahwa pada awalnya mereka juga merasakan pahit, tapi mereka mulai terbiasa saat merasakannya dan semakin semangat karena telah merasakan khasiatnya.
Begitu pun dengan agama. Saat kita menjalankan ibadah, syariat, sunnah dan lain sebagainya untuk pertama kali, kita akan merasa tidak nyaman seakan-akan kita sedang merasakan pahitnya jamu. Namun, pada akhirnya kita akan mulai terbiasa dan semakin dikuatkan dengan manfaatnya.

Tanya: Bagaimana jika aku sama sekali tidak merasakan manfaat dari jamu ataupun ibadah?

Kamu hanya perlu untuk belajar lebih peka terhadap kuasa-Nya serta harus ikhlas dalam menjalankannya. Semua butuh proses. Minum jamu memang tidak akan memberikan hasil dalam waktu yang singkat, sesingkat obat-obatan kimia, tapi jamu adalah herbal yang tidak memiliki efek samping yang akan membahayakanmu. Begitu juga dengan ibadah. Kamu tidak selalu akan segera merasakan manfaatnya, mungkin saja Tuhan akan berikan manfaatnya di masa mendatang. Namun satu yang pasti, kamu tidak akan pernah bisa memungkiri bahwa kamu akan merasakan keteduhan hati setelah beribadah. Percayalah. Kamu hanya perlu lebih ikhlas dan lebih banyak bersyukur.

Mengenai para penjual jamu.Terkadang aku merasa kasihan melihat para penjual jamu yang lewat didepan rumah berpanas-panasan dibawah terik matahari membawa jamunya yang tak laku-laku. Bahkan tak jarang aku juga melihat ada orang yang tak segan-segan mengejek tukang jamu itu dengan "Hari gini jualan jamu!". Walaupun dalam hatinya pasti ia sedang bersedih, ia tetap teguh terus berjalan sambil menjual jamu-jamunya.
Begitu juga dengan para da'i dan ulama, mereka terus menyebarkan ajaran-ajaran agama. Seringkali para da'i dan ulama mendapatkan ejekan "Hari gini bawa-bawa agama!". Walaupun dalam hati terasa panas, mereka tetap teguh dijalan Tuhan untuk menyi'arkan ajaran-ajaran agama Tuhan.

Jangan lupa bahwa penjual jamu juga ada yang menjerumuskan penikmatnya kedalam kesesatan. Tak jarang kita melihat di televisi ada berita tentang penjual jamu yang ditangkap karena menjual jamu-jamu yang bis memabukkan bahkan yang bisa juga mematikan penikmatnya. Padahal jika si penikmat ini mau berfikir, ia tidak akan meminum sesuatu yang ia tahu bahayanya.
Begitu juga dengan agama kita. Seperti yang dituturkan oleh Ustadz Felix Siauw, "Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh manusia berfikir agar mampu beriman". Insha Allah kita tidak akan terjerumus kedalam kesesatan selama kita masih mau menggunakan otak kita untuk berfikir.

Wow, begitu banyak persamaan jamu dengan agama. Akan tetapi ada satu hal yang berbeda, yaitu jamu bisa kadaluarsa sedangkan Islam tidak akan kadaluarsa hingga hari akhir/pembalasan nanti. Wallahu a’lamu bishshawab. Mari kita renungkan bersama.

Mohon koreksinya jika ada kesalahan dalam artikel ini. Terimakasih. Semoga bermanfaat.. :)
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

4 komentar:

  1. Bagus sekali artikelnya. Menguatkan iman saya dan memotivasi untuk minum jamu. Tambahan gan:
    Tapi, kalau dipikir lebih dalam dan mendasar, banyak orang yang suka ngomong "hari gini bawa agama!", menurut saya, itu karena ia berpikir bahwa agama sudah tidak bisa menjadi solusi hidup dan menganggap bahwa agama tidak perlu lagi. Padahal, agama adalah alternatif yang paling mudah dipahami sebagai solusi hidup dari masalah yang ada.

    Ia menganggap agama sudah tidak bisa menjadi solusi hidup karena jaman yang terus berubah. Dunia terus berubah. Tapi agama sulit menyesuaikan diri. Banyak fatwa haram yang sulit disesuaikan sehingga membatasi pengembangan seseorang, padahal fatwa itu tidak merugikan orang lain atau diri sendiri selama masih ada prinsip kehati-hatian (tergantung presepsi orangnya). Budaya dari agama yang mengental kuat justru menjadikan seseorang menganggap bahwa agama adalah yang paling benar, sehingga saat menghadapi suatu masalah yang tidak tepat dibahas dengan agama, orang justru HANYA menggunakan agama untuk menyelesaikan setiap masalah. Karena itu, masalah terselesaikan, tapi menghasilkan masalah kecil lainnya, seolah2 seperti memperbaiki rumah, dan perbaikan itu telah selesai, namun perbaikan itu mengotori jalan di sekitarnya. Selain itu, ketidakberanian untuk bertanya tentang alasan-alasan di balik melakukan dan mematuhi aturan dalam agama, membuat orang berani melanggarnya saat ada kesempatan di depan matanya. Agama tidak boleh menggunakan kata "mungkin" dalam tafsirannya. Makna dari ayat2 kitab suci itu sangat mendalam, tapi sayangnya, tafsirannya tidak sedalam maknanya. Masih harus terus digali.

    Bukannya tidak percaya dengan agama, tapi hanya mengusulkan bahwa penyebab seseorang melanggar kewajibannya, itu karena pengajarannya yang tidak mendalam, dan hanya mengajari "itu adalah kewajiban" meskipun tidak tahu alasan dan tujuan yang mendalam di balik semua itu. Karena ketidaktahuan akan alasan dan tujuan yang mendalam di balik kewajibannya dan aturannya, maka saat ada kesempatan di depan matanya, ia tidak takut melanggarnya. :)

    Kalau nolak usulan saya, ya gpp. Hapus komen ini juga gpp. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemikiran yang bagus. Aku setuju dengan beberapa pendapatmu.

      Harus diakui memang ajaran agama di negeri ini memang masih setengah-setengah. Sehingga melahirkan generasi yang setengah-setengah juga.

      Terimakasih opininya. Semoga tidak disalah-artikan oleh pembaca sekalian. :)

      Hapus
    2. Amin. Semoga gak ada yang salah paham tentang pendapat saya. :'v

      Hapus
    3. Wow. Dari tips komputer berubah jadi wujud asli.. Hehe

      Hapus

Monggo berkomentar dengan sopan..