Merindukan Sebuah Kasta yang Hilang


Dunia dalam genggaman via bing.com
Assalamualaikum. Readers, tanpa disadari saat ini kita telah memasuki masa depan yang dulu selalu diimpi-impikan manusia. Kita berada didalam sebuah zaman yang segalanya mudah didapatkan, yang segalanya dapat diraih dalam genggaman. Bahkan, pada zaman ini sudah tidak ada lagi kasta antara si kaya dengan si miskin.

Sebelum readers salah paham, disini aku berbicara dalam sudut pandang kalangan menengah kebawah..

Masih ingat? Dulu jika kita ingin menonton film, kita harus ke bioskop atau menunggunya muncul di televisi. Kalau kita mengidolakan suatu musisi, kita harus menabung untuk dapat membeli albumnya. Dan kalau kita menginginkan game, kita harus menyisihkan uang untuk bermain di rental dalam waktu yang terbatas. Biasanya dulu hanya orang kaya yang dengan mudah dapat menikmati ketiga hal itu sebebas-bebasnya tanpa batas waktu. Tapi sekarang, mau kita kaya atau miskin, semua bisa menikmatinya.

Si kaya baru menyaksikan film di bioskop, kita tak perlu ke bioskop tapi sudah bisa menyaksikan film yang sama. Si kaya beli musik favoritnya di toko musik online, kita tinggal unduh saja secara gratis di situs mp3 yang begitu menjamur. Si kaya memiliki game baru yang harganya mahal, sedangkan kita bisa dengan mudah menyusulnya hanya bermodalkan kuota yang banyak. Benar-benar tak ada lagi kasta dan menyenangkan, bukan? 

Namun bagiku, hal itu bukannya bagus, tapi malah menyedihkan. Bagiku yang hanya kalangan bawah, justru rasanya semua hal indah yang kita rasakan dulu, sirna begitu saja karena hilangnya kasta antara si kaya dengan si miskin. Kebebasan ini malah menjerumuskan kita dalam hidup yang pasif, hedonis, dan membosankan. Yeah, kita akan mudah diserang oleh kemalasan dan kebosanan!
Konser Dewa 19 via flickr.com
Contoh kecil, kenapa dulu konser musik yang di tayangkan di televisi begitu exciting? Karena dulu untuk menikmati musik, kita harus bekerja keras dulu baru bisa membeli albumnya. Karena itu, musik menjadi sesuatu yang eksklusif. Sekarang? Musik adalah hal yang membosankan karena kita bisa mendapatkannya dengan mudah dan tidak perlu membayar.
Harvest Moon BTN.
Contoh lain, kenapa game Harvest Moon begitu memorable ketimbang game-game Harvest Moon yang baru-baru ini rilis? Karena dulu kita butuh perjuangan keras agar dapat memainkannya. Karena dulu kita merasakan nikmatnya kenangan kucing-kucingan dengan orang tua agar dapat memainkan game di rental. Karena waktu mainnya terbatas, sehingga tidak mudah bosan. Sebagus apapun game saat ini, tidak akan terasa seindah dulu, karena kita terlalu bebas memainkannya tanpa batas waktu, tanpa ada perjuangan.

Jujur, aku merindukan kasta yang telah dihancurkan oleh kemajuan teknologi. Aku rindu indahnya bersabar menunggu rilisnya album band kesayangan. Aku rindu sebuah perasaan bangga dan dibanggakan ketika membeli album band favorit. Aku rindu perjuangan keras menyisihkan uang untuk memainkan sebuah permainan di rental. Aku benar-benar merindukan rasa iri--yang membuatku terpacu untuk berjuang--ketika melihat si kaya memamerkannya benda-benda yang aneh dan menarik. Aku rindu sebuah kasta.

Hilangnya kasta menyebabkan hilangnya keseimbangan dalam kehidupan. Selama masih ada kasta, akan selalu ada semangat juang di hati kita semua. Namun, karena tak ada lagi kasta, kita semua merasa hidup ini sudah cukup, masih padahal banyak hal yang harus dibenahi. Karena hilangnya kasta kita terjerumus didalam kemalasan dan kebosanan. Hidup pun jadi terasa tak lagi hidup.

Entah kita harus apa untuk mengubahnya, karena kita hanya sebagian kecil dari sebagian besar manusia di dunia yang sedang merasakan hilangnya kasta oleh teknolongi. Tapi yang jelas ketika dunia sudah tidak terbatas, maka tiap dirilah yang menegaskan batas dalam dirinya masing-masing.


Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..