Cerpen: Kurayu Melody


Kurayu Melody oleh Bryan Suryanto.
Assalamualaikum. Readers, sudah lama aku tidak memposting cerpen. Maklum banyak cerpen yang aku buat, terlalu panjang, terlalu klise dan secara total menghancurkan rasa percaya diri ketika tersadar hasilnya buruk. Tapi khusus kali ini aku posting cerpenku yang paling singkat, diketik 2.5 jam dan sunting secara asal. Yeah, anggap saja aku update status panjang, jadi sengaja aku tidak tagging sobat-sobatku sesama penulis.

Cerpen ini spontan tercipta setelah mendengarkan lagu Kurayu Bidadari-nya Al Ghazali sambil terbayang bebebku, Melody Nurramdhani Laksani. Jadi, siap-siap saja kecewa dengan ceritanya.

Btw, cerpen seriusku kayaknya terlalu panjang, jadi menyusul aja deh. Menjadi novelis masih menjadi my biggest dream. Doakan aku! Terimakasih.

Monggo kalau ada kritik saran..

***

Kurayu Melody

Suatu hari di Bandara Soekarno-Hatta, dua orang Gakarian (sebutan untuk penggemar Ikimono Gakari) akan terbang ke Jepang untuk menyaksikan konser akbar Ikimono Gakari di Tokyo yang dihelat besok lusa. Mereka adalah Bryan Suryanto, seorang cowok pendiam yang menggilai musik, dan Ismu Syifa, cowok pemalu pecinta kebudayaan Jepang.

Sebelum naik ke pesawat, koper mereka harus diperiksa. Ismu yakin kopernya tidak akan terhambat, karena dia hanya membawa beberapa potong pakaian--termasuk pakaian baru yang masih tersegel untuk ditandatangani oleh personil Ikimono Gakari. Akan tetapi ia ragu dengan barang yang dibawa oleh temannya. Bryan membawa gitar kesayangannya untuk ditandatangani! Sebelum berangkat, Ismu sudah protes, namun Bryan tetap bersikeras untuk membawanya. Tapi untunglah, koper mereka lulus pemeriksaan.

Bryan dan Ismu pun segera naik keatas pesawat, mereka mendapat bangku paling belakang. Saat itu memang masih belum banyak orang yang naik, soalnya mereka datang lebih awal karena terlalu excited dan takut kebiasaan terlambat mereka membuat mereka berdua ketinggalan pesawat. Tentu saja waktu take off masih lama, mereka pun mengisi waktu dengan saling bercanda.

Menit demi menit berlalu, pesawat perlahan mulai terisi penuh. Sebagian besar penumpangnya adalah para pelancong yang entah ingin pulang dari Indonesia atau pergi ke Jepang, bahkan diantaranya ada orang Jepang asli. Ismu langsung heboh sendiri, "Bryan, itu orang Jepang asli ya!?" bisiknya dengan agak keras karena terlalu excited. "Cantik banget ya!"

"Aduh, kalau berbisik itu pelan-pelan, dudul!" Bryan mengusap telinganya. "Kamu ini baru lihat Japanese sebiji sudah bingung, bagaimana nanti kalau kita sudah landing di Tokyo Japanesenya ada jutaan. Bisa-bisa kamu stres, terus masuk RSJ!"

Ismu merasa tersinggung dengan ucapan Bryan, dan mereka pun saling mendiamkan satu sama lain.

Tak lama kemudian, seorang perempuan lewat disamping Bryan, menebarkan wangi aroma parfum nan lembut. Bryan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari ekor matanya ia melihat sesosok perempuan yang sering dilihatnya di televisi, yaitu leader Idol Group JKT48 yang bernama Melody Nurramdhani Laksani.

Melody menoleh ke Veranda--yang juga anggota JKT48--yang ada di belakangnya dan mengobrol sejenak. Seketika itu juga apa yang dilihat oleh Bryan bergerak melambat bagaikan efek slow motion, dan terasa bagaikan hanya ada dirinya dan Melody di dalam pesawat itu. Kibasan rambut Melody yang wangi begitu menawan bergerak seiring dia menoleh, dan kulitnya yang berkilau memancarkan pesona keindahan yang membuat berjuta lagu cinta bernyanyi di dalam hati Bryan.

Melody kembali berjalan lurus menuju bangkunya yang berada di paling depan, dan tak sedikitpun memperhatikan Bryan. Dalam pandangan Bryan, ia masih terlihat bergerak lambat. Cara berjalannya yang biasa saja, jadi begitu anggun di mata Bryan, bahkan mungkin saja kentut sang pujaan pun akan terasa wangi baginya. Sampai akhirnya sang teman merusak suasana.

"Oh Veranda, Oshi-ku!" Seru Ismu yang tanpa sadar memeluk Bryan. "Kenapa kamu begitu cepat berlalu. Aku terpesona dengan keindahanmu. Jangan kau per..."

"Heh gila. Kamu ngapain peluk-peluk?" Sela Bryan, balas membuyarkan suasana yang dirasakan Ismu.

Ismu segera sadar dan melepaskan pelukannya. "Oh, sorry!"

Mereka pun kembali saling mendiamkan satu sama lain. Ismu masih merasa jengkel atas ucapan Bryan serta rusaknya suasana ketika dia sedang mengagumi Veranda. Sedangkan Bryan, ia tak peduli lagi dengan perselisihan mereka, ia justru sedang asyik berusaha memutar kembali apa yang dia rekam didalam otaknya ketika melihat Melody tadi. Kibasan rambut itu terus berulang kali ia ingat hingga perasaannya semakin berbunga-bunga dan jatuh semakin dalam kedalam rasa cinta terhadap sang idaman.

Sambil melamun, tanpa sadar Bryan menyanyikan sebuah lagu yang spontan tercipta oleh perasaan cintanya, dengan lirih. "Aku disini, diatas awan." gumamnya dengan nyanyian. "Aku tertawan paras cantik rupawan.."

Begitu tersadar bahwa kata-kata indah telah meluncur dari mulutnya, Bryan segera mengambil buku catatan dan menuliskannya dengan perasaan yang indah.

Waktu take off segera tiba. Pramugari cantik segera masuk dan membimbing penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman, dan juga mengajarkan cara menggunakan perlengkapan untuk kondisi darurat.

Beberapa puluh menit kemudian, pesawat telah berhasil take off dan sudah stabil di udara. Sementara Ismu sibuk mengintip daratan dari jendela, Bryan kembali menuliskan kata-kata indahnya sambil terus menyanyikannya dengan suara yang lirih.

Sudah berjam-jam berlalu, Bryan tak jemu-jemu menggumamkan lagu yang diciptakannya. Sampai akhirnya dia berhenti karena melihat sang idola berdiri dari bangkunya. Pasti dia mau ke toilet yang ada dibelakangku, fikirnya. Bryan pun juga berdiri untuk mengambil gitarnya, dan segera kembali duduk.

Jreng! Bryan memetik gitarnya, Melody melihatnya dari kejauhan dengan senyum kebingungan. Sementara Melody melangkah, Bryan pun balas menatap penuh percaya diri sambil medendangkan lagu ciptaannya. "Aku disini diatas awan." dendangnya, membuat Melody melambatkan langkahnya. "Aku tertawan paras cantik rupawan."

Ismu memandang Bryan bagaikan sedang tersambar petir, "Bry, sadar, Bry! Kita lagi di pesawat!"

Bryan tak peduli dengan teguran temannya, ia malah berdendang dengan semakin jelas, "Tak jemu-jemu aku memandang. Ingin ku merayu dengarkan aku berlagu." Melody yang ada dihadapannya kini menghentikan langkahnya usai mendengarkan bait terakhir yang dinyanyikan Bryan, dan menantikan bait selanjutnya.

Bryan semakin bersemangat, "Baru aku mengerti artinya bidadari, sejak di hari ini jumpa kamu disini." Melody pun tersipu malu sampai ia menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya.

Bryan merasakan perasaan yang benar-benar indah ketika melihatnya tersipu dihadapannya. Ia pun secara spontan menciptakan bait baru, "Pasti inilah surga, ku di dalam nirwana, meskipun sementara saat kita berjumpa."

Bryan pun menutup lagunya dengan bait-bait terakhir, "Sebentar lagi kita segera tiba, lepas dari mimpi ku dalam realita. Menapak jejak di atas bumi ini, akan ku kenang selalu memori."

Lalu dengan percaya diri yang tinggi--dan tangan yang gemetaran--dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Aku Bryan,"

"Melody." jawabnya dengan tersenyum manis, menjabat tangan Bryan yang dingin dan gemetaran.

"CIE! CIE!" Seisi pesawat menyoraki mereka berdua dengan penuh tawa, termasuk Ismu dan member JKT48 yang ada didepan.

Veranda terburu-buru menyusul Melody dan langsung berbisik kepadanya, "Mel, kamu lupa Golden Rules JKT48*?"

*Peraturan yang melarang member JKT48 untuk berpacaran dengan siapapun.

"Ah, enggak apa-apa kok. Dia kan penggemarku. Tentu, aku tidak melanggar golden rules." jawab Melody.

"Baguslah." ujar Veranda.

Bryan menyela pembicaraan mereka, "Hai bidadari, sebelum kamu lepas mimpiku kedalam realita, maukah kamu berfoto dengan penggemarmu ini yang hanya manusia biasa?"

"Ah, jangan begitu, aku jadi malu." Ujar Melody. "Boleh kok, ayo kita wefie."

Usai mereka berfoto, Ismu tak mau kalah. "Aku boleh foto bareng juga kah?" tanya Ismu. "Tapi, aku maunya sama oshi-ku, Veranda, ya?"

"Boleh." Jawab Veranda sambil tertawa, dan mereka berdua pun melakukan wefie.

"Terimakasih," ucap Ismu. Kemudian dia menyodorkan sebuah kaos. "Boleh minta tanda tangan juga, Ve?"

"Oke." jawab Veranda, sambil menerima dan menandatangani kaos Ismu, lalu mengembalikannya.

"Teh Imel*, aku juga boleh kan minta tandatangan?" Tanya Bryan sambil menyodorkan gitarnya, "Tolong tanda tangani gitarku."

*Sapaan akrab Melody dikalangan penggemar.

Tanpa ragu, Melody pun langsung menandatangani gitar Bryan, dan ia segera pamit karena ingin ke toilet, "Aku ke toilet dulu ya, bye!"

Bryan tak ada habisnya memandang Melody hingga dia menghilang dibalik tirai. Setelah itu dia memandang tandatangan Melody yang ada di gitarnya, namun entah kenapa dia tertawa terpingkal-pingkal bagaikan orang gila. Ismu bahkan sampai memperingatkan Bryan, "Kamu kenapa sih? Malu tahu dilihat seisi pesawat!" Tegur Ismu. "Kayaknya kamu juga bakal masuk RSJ deh."

"Kepo ah. Mau tahu aja kamu!" Bryan berusaha merahasiakan apa yang dia lihat dari tanda tangan Melody, karena tepat dibawah itu Melody menuliskan nomor ponselnya. Tentu saja Bryan menjadi gila!

Sungguh saat perasaannya begitu indah, tak ada lagi rasa yang tertinggal. Kini ia bisa membenamkan diri kedalam kursi dengan tenang, menunggu kakinya menapaki Tokyo dan melepas mimpi ke dalam realita.


Beberapa jam kemudian Bryan dan Ismu telah landing di Tokyo. Mereka langsung teringat dengan konser Ikimono Gakari yang pada akhirnya membuat mereka tambah over-excited. Ismu semakin gila setelah dia tak percaya bisa melihat orang Jepang asli berlalu-lalang dihadapannya. Sementara Bryan, dia masih belum bisa melepaskan pandangan ke arah pesawat yang dinaikinya.

Bersama para member JKT48 lainnya,Melody turun dengan anggun dari pesawat dan memandangnya dari kejauhan. Bryan melambaikan tangan, dan dia pun membalas melambaikan tangan. Bryan pun segera pergi meninggalkan bandara. Sungguh kenangan ini pasti tak akan pernah hilang dari benaknya, dan dia pun tak akan melewatkan kesempatan untuk menghubungi nomor ponsel sang idola.

Setelah itu seorang Ibu membentaknya, "Yan, bangun! Shalat subuh dulu, nanti keburu siang!" dan mimpi Bryan benar-benar lepas ke dalam realita bukan? Damn! Seharusnya dia menghafalkan nomornya sebelum bangun!

TAMAT
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..