Cerpen: Antara Cinta dan Persahabatan



Antara Cinta dan Persahabatan.
Rama, seorang anak SMA yang begitu pendiam. Tak banyak hal berarti yang ia punya di hidupnya selain prestasi gemilangnya dalam dunia perkomikan Asia--meskipun dia tak pernah mendapatkan dukungan dari ibunya, karena bagi sang ibu, komik adalah hal yang sama rendahnya dengan video games. Meski begitu, ia masih punya satu-satunya sahabat bernama Citra, yang selalu menguatkannya. 

Rama pernah memenangkan lomba membuat komik paling bergengsi ditingkat dunia, yaitu Silent Manga Audition, sehingga selain reputasi positif di Asia, ia pun juga diganjar dengan hadiah uang dengan jumlah yang amat besar. Sebagian besar dari uang tersebut ia simpan sebagai tabungan masa depan, sebagian lagi untuk membeli peralatan menggambar impiannya, dan sisanya ia gunakan untuk bersenang-senang bersama sahabatnya, Citra.

Citra adalah sahabat terbaik baginya. Citra selalu ada waktu ketika Rama sedang bersedih dan butuh pendukung, Citra selalu hadir ketika orangtuanya selalu sibuk dengan pekerjaan di tower bisnis yang tak ada habisnya, dan Citra tak pernah lelah mengkritik komik Rama sehingga Rama bisa menapaki prestasi yang sejauh ini. Nyaris begitu pula sebaliknya, bagi Citra, Rama adalah penguatnya ketika ia sudah tak mampu lagi melangkah lebih jauh.

Meskipun Rama selalu menganggap Citra adalah sahabatnya, dan begitu pula sebaliknya, tapi sebenarnya sejak SMP Rama telah menekan perasaan cintanya terhadap Citra agar jangan sampai bertumbuh. Namun, kesenangan karena memenangkan Silent Manga Audition membuatnya membiarkan segala rasa bahagia meluap ke permukaan, hingga perasaannya terhadap Citra telah berubah menjadi cinta.

Setelah liburan semakin dekat, ia mengajak Citra untuk berlibur 3 hari bersama. Ia ingin Citra juga menikmati ganjaran atas kesetiaannya mengkritik komiknya. Citra pun tidak menolaknya. Sampai akhirnya libur telah tiba, mereka berlibur di pantai yang tak jauh dari rumah. Citra terlihat begitu senang, belum pernah Rama melihatnya sebahagia hari itu.

Pada sore hari terakhir dalam liburan mereka. Rama dan Citra duduk diatas pasir putih sambil memandang indahnya mentari yang terbenam. Citra begitu menikmati momen indah ini, sinar mentari senja pun semakin mengindahkan senyumannya yang menggetarkan hati. Rama sudah tak sanggup menahan semuanya, ia menggenggam kedua tangan Citra dan menyatakan cinta yang telah lama terpendam. Tapi jawaban Citra tak sesuai harapannya. Ia lupa bahwa ada seorang Indra, lelaki yang takkan terganti bagi Citra. Setelah hari semakin gelap, mereka pulang dengan kecanggungan satu sama lain.

***

Beberapa bulan berlalu, meskipun masih ada sedikit kecanggungan, hubungan Rama dan Citra telah kembali. Mereka kembali saling ejek satu sama lain, kegiatan lucu yang paling mereka suka. Namun sekeras apapun Citra tertawa, kemurungan di wajahnya takkan dapat disembunyikan. Matanya merah, dan pipinya pun terlihat sembab, seperti habis menangis semalaman. Tapi Rama sudah paham apa yang menjadi penyebabnya. Tidak salah lagi, hubungan percintaan mereka tidak berlangsung baik, batin Rama. Seperti biasa, kata-kata bijak pun meluncur dari mulutnya untuk meringankan beban di hati Citra, dan itulah sesuatu yang selalu dibutuhkan Citra.

Saat pulang sekolah tiba, Rama merasa buruk. Perasaan itu bahkan menghalangi kreatifitasnya untuk berkarya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke atap (roof top) sekolah. Namun bukannya mendapat ketenangan, ia justru mendengar tangisan menjijikan dari seorang lelaki. Tadinya ia ingin segera pulang saja, tapi rasa penasaran telah mengganggunya. Dan lelaki yang menangis adalah, Indra Tanujaya, penghalang terbesar dalam hubungannya dengan Citra. Indra telah berdiri diatas bangku menghadap tali yang telah terkait di sebuat tiang. Ia ingin bunuh diri!

"Rupanya kamu," ucap Rama dengan kebencian yang bergolak didada. "Sedang apa disini?"

"Bodoh," bentak Indra. "Apa kau tak melihat aku mau bunuh diri!? Hidupku sudah tidak beguna lagi. Aku kesepian, dan aku dicampakkan. Bahkan kini dia terlihat akan meninggalkanku. Apa kau puas!?"

Baik Rama maupun Indra, mereka sama-sama menganggap mereka satu sama lainnya adalah rival. Rama sempat berfikir sejenak, ia benci namun ia ingin menolong. Dan ia akhirnya malah menyeret sebuah kursi reot, dan duduk bersantai menyaksikan perbuatan Indra dari belakangnya. "Kalau memang mau bunuh diri, maka kaitkanlah kepalamu dan lompat saja. Jangan buang-buang waktu." ucap Rama dengan tegang, namun ia membuatnya sesantai mungkin. "Apa kau mungkin hanya ingin cari perhatian dari Citra?" Indra tak menjawab, dan Rama kembali mengejek. "Uh, memalukan. Lelaki macam apa kamu?"

Indra memandang lurus ke simpul tali yang melingkar, dan ia pun dengan mantap memasukkan kepalanya. Sontak saja perut Rama terasa mulas, dan keringat mengalir deras. Tentu saja ia tak bermaksud untuk mempersilahkan Indra mati, meskipun ia sebenarnya lebih suka begitu. Ia pun berfikir keras, dan kembali berkata dengan kesantaian yang mulai goyah, "Bodoh, kalau kau mau mati, silahkan saja, tapi aku hanya merasa heran."

Indra menoleh kebelakang. "Heran apanya!?" 

Untuk sesaat Rama merasa sedikit lega karenanya. "Kenapa kamu mau mati? Memangnya kamu yakin akan ada banyak orang yang menangisi kematianmu? Kamu kan tak punya teman." ucap Rama. "Alasan bunuh diri kamu itu terlalu kecil, bahkan tak cukup pantas untuk dibayar dengan kematian."

Indra hendak berkata, namun Rama memotongnya, "Banyak orang yang lebih pantas, dan punya alasan yang lebih baik untuk bunuh diri. Seperti orang cacat yang lahir tanpa memiliki tangan, atau orang sakit yang telah divonis tak dapat disembuhkan. Tapi mereka tidak melakukannya, mereka malah sukses berkarya sembari memanfaatkan sisa hidup yang mereka punya."

"Rama yang sok bijak! Aku selalu benci ketika kata-kata sok alim itu keluar dari mulutmu. Aku selalu iri karena kau selalu bisa mengatakan kata semacam itu kepada Citra, dan menyemangatinya!!" bentak Indra. "Tapi kata itu takkan mengubah apapun! Aku tetap ingin mengakhiri hidup ini!"

Rama kembali was-was. "Kalau begitu setidaknya kamu harus meminta maaf ke ibu kamu. Katakan padanya bahwa kamu menyesal telah merepotkannya selama 9 bulan dan menyia-nyiakan jasanya selama 17 tahun ini." katanya.

"Diam!!" bentak Indra.

Rama tak peduli. "Katakan juga padanya bahwa kamu meminta maaf karena belum cukup mapan untuk membayar biaya kuburanmu sendiri!!" balas membentak Indra.

"DIAM!!" Indra membentak lebih keras. "Kalau aku mati, aku bisa menghantui kalian semua yang telah menghancurkan hidupku, terutama kamu Rama, cowok sialan yang pasti telah membuat Citra menjauhiku! Terlebih lagi aku bisa tetap menemani ibuku meski dalam wujud yang berbeda!"

"Bagaimana bila aku tidak dapat melihatmu? Aku kan tidak peka, dan mataku tidak di anugerahi kemampuan untuk melihat hantu." tanya Rama dengan santai. Kini ia bahkan memangku sebelah kakinya. "Lalu, bagaimana bila justru kamu malah tidak bisa menghantui kami semua karena kamu ditahan malaikat untuk menjalani siksa kubur!?"

Indra kebingungan untuk menjawabnya, ia sama sekali tidak berfikir sejauh itu. Melihat keraguan Indra, Rama kembali berkata, "Kalau benar-benar ingin mati, cepat lakukanlah! Aku bosan menunggu!"

Indra melepaskan lehernya dari kaitan tali, ia hendak turun tapi kursi reot yang ia jadikan pijakan kini ambruk dan menjatuhkannya dengan posisi terduduk. Rama bangkit dari kursi dan mendekat. Ia mengulurkan tangan, "Ayo bangun, jagoan." ucapnya dengan senyum yang dipaksakan. Ketika Indra menerima uluran tangan itu, ia berusaha berdiri dan Rama segera meninju pipinya dengan sekeras-kerasnya, hingga membuat Indra kembali terjatuh dan hidung mengeluarkan darah yang begitu banyak.

Teman-teman sekelas sedari tadi ternyata menyaksikan percakapan Indra dan Rama, beberapa dari mereka yang kenal dekat segera menghampiri Indra.

Rama sudah tidak bisa menahan emosinya. "Dasar goblok. Asal kamu tahu saja, aku seharusnya senang karena kamu akan bunuh diri. Terlebih lagi kamu adalah penghalang terbesarku dalam mendapatkan hati Citra. Tapi aku memikirkan perasaan Citra yang begitu mencintaimu. Aku tidak ingin dia depresi karena kematian pacarnya!"

Indra hanya tertunduk tak dapat menjawab. 

"Aku heran kenapa Citra bisa mencintai lelaki payah seperti kamu." lanjut Rama. "Aku jauh lebih pantas! Aku selalu bisa membuatnya bahagia dan senang, sedangkan kamu hanya bisa menambah beban dihatinya. Aku selalu ada ketika dia membutuhkanku, sedangkan kau tidak pernah memperhatikan dia sama sekali! Aku bahkan sangat hafal apapun yang dia suka dan benci!!"

Meskipun teman-temannya menghalangi, Rama mendekati Indra. "Tak ada yang bisa aku lakukan untuk menggantikanmu dari dalam hati Citra." ucap Rama sambil menunjuk-nunjuk dengan kasar ke dada Indra. "Maka dari itu, tolong kamu jaga Citra baik-baik. Karena, bila aku ada di posisimu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan dirinya!"

"Indra!" Citra datang menembus kerumunan. Untuk pertama kalinya Indra mengangkat kepala, tapi Citra langsung menampar wajahnya keras-keras. "Kamu pikir apa yang telah kamu lakukan, Indra!" bentaknya dengan wajah yang berlinangan air mata.

"Maaf.." hanya itu yang terucap dari mulut Indra.

Citra langsung memeluk Indra tanpa mempedulikan kerumunan orang yang sedang menyaksikan mereka. Mereka mulai berdrama ria sebagaimana seharusnya sepasang kekasih, dan itu membuat Rama muak. Rama pergi meninggalkan kerumunan dan mencari tempat di atap dimana ia bisa menenangkan diri.

***

Rama kembali ke meja gambarnya, ia mulai menggambar dengan perasaan yang campur aduk. Hasilnya, ia hanya menambah tinggi gunungan kertas yang telah memenuhi tong sampah di kamarnya. Fikiran tentang Citra tak mau pergi. Sejujurnya ia masih merasa kesal, ucapan kasar terakhirnya masih terus terbayang. Benar, bila aku ada diposisinya, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Citra, batin Rama. Citra oh Citra, kenapa kamu malah mencintai lelaki bodoh seperti dia.

"Rama.."

Gubrak! Rama terjatuh dari kursi, saking kagetnya. Citra yang sedang difikirkannya sedang berdiri di pintu kamar. Citra sudah biasa datang ke rumah Rama, jadi ia dipersilahkan untuk masuk ke rumah tanpa harus memanggil Rama terlebih dahulu.

"Citra! Sejak kapan kamu disitu?" seru Rama. "Kamu seperti hantu, mengagetkan aku saja!"

"Hei, sedari tadi aku sudah mengucap salam berkali-kali tapi kamu malah melamun!" ujar Citra. "Awas kalau keseringan melamun nanti kamu kesurupan loh. Hihihi."

Rama mencoba untuk tertawa, tapi terlihat sekali bahwa ia sebenarnya terlalu memaksakannya. "Maaf, aku sedang terkena art block, tapi aku tetap ingin menggambar. Jadinya ya melamun tak jelas."

Citra masuk dan duduk di kasur Rama--yang berantakan seperti biasanya--dan ia tersenyum kecut mendengan pernyataan Rama. "Terimakasih Rama, karena kamu telah menolong Indra agar dia tidak berbuat bodoh. Tapi aku masih teringat kata-kata terakhirmu kepada Indra kemarin." Deg! Detak jantung Rama seakan tiba-tiba lebih keras tapi melambat. "Aku datang kesini untuk meluruskan semuanya."

"Baiklah," Rama meninggalkan meja gambarnya dan duduk di kasur, bersebelahan dengan Citra.

"Kamu tak pernah jujur sepenuhnya mengenai perasaanmu sebelumnya, dan kemarin aku terkejut kamu mengatakan semuanya dengan jujur. Sungguh aku bingung, aku terharu tapi juga sedih." Citra menyandarkan kepalanya ke pundak Rama. "Kamu bagiku adalah sahabatku, dan untuk saat ini akan tetap begitu. Sulit bagiku untuk mengubahnya."

"Mengapa begitu? Apakah ada kekuranganku yang mengganggu kamu?" tanya Rama dengan sedih.

"Tidak, tapi kamu adalah sahabat yang berharga bagiku." bantah Citra. "Aku tidak ingin kita berpacaran karena aku takut semua kesenangan kita akan berubah dan takkan pernah lagi sama. Aku takut seandainya kita pacaran dan kemudian putus, kita akan saling membenci satu sama lain. Berteman setelah putus itu mustahil terjadi!" ujar Citra dengan air mata yang membanjiri

"Aku mengerti," Rama melirik Citra, air mata mulai memenuhi pandangannya. Ia merangkul Citra dan mengusap pundaknya. "Aku senang kamu berfikir sejauh itu. Seharusnya aku juga memikirkan perasaanmu. Aku mungkin hanya menjadi terlalu egois bila memaksakan perasaanku.."

Citra menatap Rama. "Tetaplah menjadi sahabatku, Rama. Karena, hanya kamu satu-satunya sahabat yang paling mengerti aku." Mereka akhirnya berpelukan untuk mengentaskan kesedihan masing-masing. "Aku menyayangimu, Rama."

"Aku juga," ujar Rama. "Dan rasa itu takkan pernah berubah."

Sejak hari itu tidak ada lagi kecanggungan yang mengganggu mereka. Mereka kembali menjadi sepasang sahabat yang saling mendukung satu sama lainnya. Rama bahkan kini berteman--walaupun tidak cukup baik pertemanannya--dengan Indra. Rama kembali bisa menggambar lagi, otaknya dibanjiri dengan banyak inspirasi, dan ia pun siap menghadapi Silent Manga Audition tahun depan dengan semangat.

"Seandainya aku menang lagi, hadiahnya mau aku apakan ya?" gumam Rama. Sekilas ide kotor pun  terlintas. "Aku akan menyewa pembunuh bayaran. Hehehe!"


TAMAT



Catatan: Psst! Readers, cerpen ini sebenarnya terinspirasi dari artikel lamaku yang berjudul Mau Bunuh Diri? Yuk Simak Persiapannya!. Ide membuat cerita ini tergerak ketika aku sedang mencari ide untuk novelnya si Rama ini. Ngomong-ngomong Rama kasihan juga, dia sering aku jadikan objek pesakitan, padahal dia original character pertamaku yang paling menarik. Maaf ya Rama, penulismu ini memang jahat.
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..