Inilah Alasan Kenapa Pecinta WE9 Harus 'Move On' ke PES6



Assalamualaikum. Readers, Winning Eleven 9 dan Pro Evolution Soccer 6 adalah game sepakbola paling ringan yang jadi penyelamat bagi para gamers dengan laptop/PC pas-pasan agar tidak gigit jari karena melihat mereka yang sedang berbahagia menikmati PES 2016 dan FIFA 16. Tapi sebelum membeli, para gamers biasanya bingung untuk memilih antara kedua judul ini.

Mana lebih baik, WE9 atau PES6? Kamu tidak perlu bingung! Aku yakinkan readers sekalian bahwa Pro Evolution Soccer 6 jauh lebih baik dan lebih patut untuk dimiliki. Mau tahu kenapa? Berikut ini adalah alasan kenapa PES6 jauh lebih baik..

Karena Loading PES6 Lebih Ringan

Loading di WE9 memang sudah ringan, tapi loading PES6 jauh lebih ringan lagi, padahal kualitas grafisnya jauh lebih baik. Otomatis tidak akan ada istilah patah-patah atau lag ketika memainkan PES6. Jadi bagi yang memiliki laptop pas-pasan, tidak perlu minder.

Karena User Interfacenya Lebih Modern

WE 9 memiliki UI yang kelabu nan jadul, sedangkan PES 6 lebih modern, padahal hanya beda satu tahun pengembangannya. Perkembangan UI PES6 akan sangat terasa bila kita suka memainkan mode permainan Master League. karena di PES6 kita bisa melihat wajah calon pemain yang akan kita beli.

Karena Animasinya Lebih Hidup

Sekilas animasi WE 9 maupun PES 6 tidak memiliki perbedaan. Tapi jangan salah, di PES 6 aku menyimak banyak perbedaan loh. Mulai dari gerak-gerik pemain yang lebih luwes, gerak bola yang lebih masuk akal, hal ini terlihat dari cara striker berlari dan cara keeper menyelamatkan bola. 

Selain itu, karakter di PES 6 disempurnakan lagi modelnya. Jadi tidak ada lagi masalah ketek bolong seperti di WE 9, atau selebrasi kaku yang sedikit mengecewakan. Bahkan aku juga menyimak pergerakan wajah, mulut, dan bola mata yang tidak aku temui di WE 9

Karena Angle Kameranya Lebih Bagus 

Angle kamera di PES 6 maupun WE 9 sama, tapi PES 6 terlihat agak lebih sempurna. Kamera PES6 bergerak seperti kamera pada siaran liga di televisi, sedangkan kamera WE9 hanya bergerak ke kiri dan ke kanan.

Selain itu, ketika di goal replay, pengambilan gambarnya diberi sedikit efek--entah apa--yang membuat seakan goal yang tercipta itu epic sekali. Padahal kalau di goal replay WE 9, goal itu biasa-biasa saja.

Tak lupa, angle saat terjadi pelanggaran di PES 6 lebih menegangkan player. Karena penyorotannya dibuat seperti saat kita sedang menyaksikan sebuah laga panas di televisi. Mulai dari ekspresi dan reaksi pemain, seakan diatur agar lebih menegangkan. Kalau di WE 9 kan wasit hanya berlari lalu memberikan kartu, seakan-akan suasananya kalem-kalem saja.

Karena Bebas Mafia

Hampir kelupaan nih. Bicara soal wasit, aku jauh lebih menyukai wasit PES 6 karena aku tidak pernah mendengar lagi tiupan peluit nan rese setiap kali merebut bola. Tapi itu bukan artinya wasitnya tidak melakukan apapun. Pelanggaran tetap ada, tapi keputusan wasitnya lebih manusiawi. Kalau di WE 9--sayangnya--wasitnya seperti sudah disogok lawan, sehingga berat sebelah.

Karena PES 6 Mengerti Siapa Playernya

PES6 menyediakan banyak pilihan tingkat kesulitan yang disempurnakan. Kita pilih easy bukan artinya tanpa perlawanan ketat, dan bila kita pilih normal pun bukan artinya kita terkekang. Kita tetap bisa bermain dengan enjoy meskipun disulitkan. Berbeda dengan WE9 yang CPUnya tidak ada kompromi, maksudnya bila kita pilih easy ya gampang tanpa perlawanan berarti, kalau susah ya benar-benar susah dan bikin emosi.

Karena Lebih Banyak MOD Tersedia untuk PES 6

Dengan kelebihan ini, kita bisa memodifikasi papan iklan, stadion, klub, hingga scoreboard dan user interface hanya dengan mengunduh dan mengaplikasikannya. Aku bahkan baru memodifikasi ui PES 6-ku menjadi ui PES 2016. Kalau kamu ingin memperbagus grafisnya, pakai saja mod SweetFX untuk PES 6.


So, tunggu apa lagi? Ayo segera move on ke Pro Evolution Soccer 6 yang punya lebih banyak kelebihan, dan jauh lebih baik!

Ukuran: 357MB

Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..