Penyebab Kekalahan Persib di Final Bayangkhara Cup


Assalamuallaikum. Kekalahan Persib atas Arema Cronus semalam begitu menyakitkan, hingga akhirnya aku cukup muak dan malas untuk lanjut menyaksikan laga MU vs Everton, Rio Haryanto di F1, dan bahkan mengurungkan niat untuk menyaksikan Moto GP. Jadi, aku segera meredam emosi dengan membaca The Hobbit, lalu tidur dengan galau.
Emblem Persib Bandung.
Klik foto tersebut untuk mengunduh ukuran besarnya.
Persib yang biasa bermain dengan greget, selalu menjadi 100% melempem ketika sudah masuk ke final. Apalagi bila bertemu Arema Cronus yang selalu menjadi malaikat maut bagi mereka. Bagiku hal ini adalah masalah payahnya mental pemain yang tak kunjung sembuh.

Selain itu, sebagai bobotoh sekaligus manager Tottenham Hotspurs (di game Football Manager), aku menyimak beberapa kesalahan dilakukan Persib dalam pertandingan semalam. Kesalahan itu bukan hanya kesalahan pemain, melainkan juga kesalahan pelatih.

Kesalahan yang pertama adalah tidak adanya sosok kapten yang pantas menggantikan Lord Atep. Terbukti ketika semalam Kang Atep harus digantikan Kang Tantan dimenit awal pertandingan, pemain Persib seperti bebek yang kehilangan induknya. Mas Hariono ataupun Kang Toni Sucipto belum pantas, tidak ada cerminan seorang kapten pada diri mereka.

Kapten di tubuh Persib itu penting sekali, mengingat tim ini belum benar-benar padu. Aku jadi teringat ketika pelatih Brazil, tim favoritku, memberikan ban kapten kepada Neymar yang begajulan. Lihatlah, satu tim Brazil jadi begajulan semua dan Brazil bermain buruk sekali.

Selain itu, soal Kang Tantan. Dia memang hebat sebagai pendobrak pertahanan lawan dimenit-menit awal ia bermain, tapi entah kenapa ujung-ujungnya selalu melempem. Mungkinkah staminanya kurang bagus? Soalnya, itu terjadi tak hanya di laga semalam saja. Mungkin juga karena sudah menginjak usia 30 tahun.

Kesalahan yang kedua adalah kenapa pelatih tidak segera mengganti Yanto Basna yang terlihat moralnya sedang buruk sejak pertengahan babak pertama? Bukan kapasitasku sih untuk menanyakan itu, tapi aku penasaran sekali. Hasilnya adalah kartu merah yang memang pantas dan tidak perlu diprotes kalau kalian waras (walaupun aku masih jengkel sebenarnya).

Menurutku, Esteban memang seperti minta disantet dengan tindakannya yang mengulur waktu dengan berpura-pura cedera. Tapi bagaimanapun Yanto dengan moral yang buruk, tentu emosi mudah meledak-ledak. Cukup Vlado saja yang tempramental. Harusnya Basna digantikan oleh Dias Angga atau Agung Pribadi saja.

Kesalahan yang ketiga adalah para mantan yang belum move on. Kalian semua tahu bahwa di starting eleven Persib ada dua mantan pemain Arema, yaitu Samsul Arif dan Purwaka Yudhi. Bagiku keduanya belum move on. Kenapa?

Pertama, kita sendiri tahu bahwa Samsul Arif seketat apapun penjagaan lawan terhadapnya, dia tetap tajam dan bisa mengobrak-abrik pertahanan lawan. Sekarang aku tanya, apakah semalam--walaupun hanya sekali--pernahkah melihat Samsul Arif bermain setajam untuk menusuk Arema? Kalau aku sendiri, sama sekali tidak melihatnya tuh.

Kedua, Purwaka Yudhi kerap dipuji ketika diduetkan dengan Kang Vlado. Semalam ia bermain cukup baik dan sayangnya keputusannya dimenit-menit kritis justru merugikan Persib. Aku melihatnya sudah jelas dihadapan Gonzales yang menunggu rekan ketika pertahanan Persib kosong. Secara teori, harusnya seorang bek melakukan tackling untuk membuang bola agar para bek punya waktu untuk kembali ke posnya. Tapi yang aku lihat dia tidak segera membuang bola keluar, dan hasilnya adalah gol kedua Arema ke gawang Persib.

Tapi pelatih juga tidak mugkin menggantikannya dengan Hermawan yang tempramental, karena bila ia masuk, dijamin Persib akan semakin menderita dengan kartu merah kedua. Si Kakek Gonzales pun bakal nyengir lebar ala kuda nil melihat ompongnya pertahanan Persib. Tapi itu cuma seandainya loh..

Bicara soal si kakek, penampilan Belencoso pun patut disorot. Mengapa Belencoso dilepas Kitchee SC? Karena mungkin dia sudah uzur. Aku menyimak bahwa Belencoso respon dan refleknya lambat. Jujur, aku ragu bahwa dia adalah striker hebat dan ragu bahwa suplai bola adalah masalahnya. Tapi aku setuju masalah waktu, mungkin dia memang butuh waktu (sepanjang musim).

Hanya itu yang aku simak semalam..

Secara keseluruhan, Persib wajib mendatangkan striker dan playmaker baru (pelatih pun sudah pasti tahu). Soal striker, aku berharapnya itu adalah seseorang dengan determinasi tinggi. Jamie Vardy sklillnya biasa, tapi determinasi tinggi membuatnya luar biasa (cuma contoh, bukan minta dia didatangkan ke Persib). Dan untuk playmaker, aku berharapnya dia adalah pemain yang sama hebatnya seperti Konate atau Firman Utina, dan pastinya aku lebih berharap itu adalah orang Indonesia.

Please Coach Dejan Antonic, Indonesia Soccer Competition akan segera dihelat, tolonglah datangkan pemain berkelas seperti Anda mendatangkan Yanto Basna, Samsul Arif, dan lain-lain. Andalah harapan terkahir bobotoh untuk musim ini. Semoga Persib bisa meraih piala lagi tahun ini. Amin.

Terimakasih.

Wassalamuallaikum!
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..