Cerpen: Saving Melody (Part 2)



"Cukup!" Ve mulai merasa muak dengan pertengkaran itu. "Aku meminta kalian membantu, bukan karena aku tak mampu mengejar Melody sendirian!" tegas Ve. "Aku hanya ingin kerahasiaan identitasku yang sebenarnya tetap terjaga!" Bryan dan Ismu bingung dengan identitas apa yang dimaksud, tapi mereka terlalu kesal untuk bertanya. "Asal kalian tahu, Charlie itu bukan penculik biasa," Ve menjelaskan dengan cemas. "Dia adalah vampir yang menculik Melody--yang berdarah suci--agar bisa dijadikan tumbal untuk ritualnya!"

"Pantas saja gigi taringnya panjang sekali!" seru Bryan, teringat apa yang dilihatnya saat Charlie menyeringai.

"Ya," jawab Ve. "Kalau Melody berhasil ditumbalkan, kekuatan Charlie akan berlipat ganda dan pastinya dia akan membahayakan Indonesia, terutama seluruh penduduk Jakarta. Dengan kekuatannya yang berlipat ganda, ia bisa menginfeksi warga Jakarta tanpa harus menggigit mereka, dan warga yang terinfeksi pun akan menjadi budaknya yang bisa ia peralat untuk menggulingkan pemerintahan. Kamu mau negeri ini jadi Republik Vampir Indonesia?"

Ismu memandang titik Melody di peta yang tadinya jarak mereka cukup dekat dengan mobil Jeep Charlie, kini jaraknya kembali menjauh. "Bagaimana kita akan mengejarnya?" tanya Ismu. "Taksi ini kan sudah mogok."

"Huft, terpaksa aku membongkar identitasku untuk mengejar mereka." ujar Veranda. Ia segera mengeluarkan pelindung kepala ninja dan memakainya. Bryan dan Ismu tercengang melihatnya tapi Ve tidak mempedulikannya. Setelah itu ia keluar dari mobil.

Ismu dan Bryan melotot tidak percaya. "S.. S.. Siapa kakak sebenarnya?" tanya Ismu. "Aku tahu kakak suka cosplay dan desain pakaian, tapi haruskah sekarang?"

Bumm! Bom asap diledakkan oleh Ve. Ketika asapnya telah memudar, tampaklah Veranda berbalut pakaian khas Ninja Konoha. "Aku jounin Konoha yang sedang ditugaskan oleh hokage untuk menjaga Melody, sang pemilik darah suci." jawab Ve. "Aku akan menghentikan mobil dengan kekuatan ninja-ku, dan kalian tolong segeralah menyusul bagaimanapun caranya--Aku memang seorang Jounin, tapi aku tak akan sanggup bertarung sendirian melawan pasukan Charlie."

"Siap!" seru Bryan dan Ismu, meskipun mereka sebenarnya sedang merasa bingung.

Veranda melompat ke atap mobil dan melompat ke atap mobil lain disekitarnya, layaknya sedang melompat-lompat diatas batu pijakan. Ia melompat begitu cepat, sehingga yang terlihat hanyalah bayangan hitam yang berkelebat. Ismu dan Bryan pun akhirnya percaya bahwa Ve adalah ninja.

"Bry, bagaimana cara kita mengikutinya? Dia kan ninja." tanya Ismu. " Kita bisa apa ditengah kerumunan mobil yang padat begini? Sekarang sudah malam pula."

***

Sudah hampir setengah jam dan mereka hanya bisa berlari sebisanya untuk mengejar Ve, tapi sia-sia saja karena mereka berdua bukanlah orang yang suka berolahraga, sehingga mereka kerap kali kehabisan nafas. Akhirnya Ismu pun menolak untuk berlari lebih jauh karena sudah terlalu kelelahan. "Percuma walau sekencang apapun kita berlari, kita tidak akan bisa mengejarnya." keluh Ismu. "Sekarang mungkin sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka, Bry."

Motor becat hijau berhenti tak jauh dari mereka. "Bagaimana kalau kita naik ojek online saja?" usul Bryan. "Tuh, ada satu yang sedang berhenti."

"Tapi kan hanya satu?" protes Ismu.

"Sekali-kali naik bertigaan tidak apa-apa kan?" paksa Bryan. "Setidaknya kan kita nggak harus berlari seperti ini. Gue lebaay, lemes braay.."

"Amit-amit," tolak Ismu dengan tegas. "Aku ogah menjadi cabe-cabean walaupun hanya sekali seumur hidup!" Ismu duduk dengan kesal di pinggir jalan dan berkata, "Aku sudah lelah, dan aku tidak mau ikut lagi dalam penyelamatan tak masuk akal ini, meskipun kamu memaksa!"

"Ingatlah siapa yang akan kita selamatkan. Penyelamatan ini juga bertujuan untuk menyelamatkan negeri kita!" bentak Bryan. Namun Ismu sama sekali tak tersentuh dengan ucapannya. Bryan pun mengancam, "Kalau keduanya berhasil aku selamatkan sendiri, jangan marah kalau Melody dan oshi-mu graduation dari JKT48 karena pacaran denganku, pahlawan penyelamat mereka!"

"Baiklah aku ikut," ujar Ismu yang sebenarnya masih lemes braay. "Enak saja kamu mau pacari keduanya!" serunya.

Driver ojek online itu pun mereka panggil. Ismu menyerahkan tablet milik Ve kepada sang driver agar ia bisa mengikuti titik hijau di peta yang sudah sangat jauh. Ismu naik lebih dulu, dan Bryan naik setelahnya. Kemudian, mereka pun berangkat. Bryan meminta agar laju motor dipercepat, dan sang driver memacu mesinnya hingga ke batas maksimal. Ia melaju dengan gesit diantara mobil yang terjebak kemacetan. Mereka pun semakin dekat dengan titik hijau di peta.

***

"Bajingan kamu, Charlie!" bentak Melody sambil meronta-ronta agar terlepas dari tali yang mengikatnya. "Bukan begini caranya untuk mendapatkan cinta dari seseorang!"

Charlie yang duduk di jok depan tersenyum sinis. Ia menoleh dan berkata, "Hah, cinta katamu? Tenang saja, aku tidak cinta dan sama sekali tidak butuh cinta darimu. Aku hanya membutuhkan darahmu yang suci nan lezat."

"Apa maksudmu! Apa kamu pembunuh!?" Melody keheranan. "Siapa sih yang menyuruh kamu? Pasti saingan bisnis papaku kan!?"

Charlie hanya menyeringai untuk memamerkan sepasang gigi taringnya. Melody menjerit ketakutan setengah mati, air mata langsung membanjiri wajah cantiknya. Para bodyguard segera membungkam mulut Melody dengan plester agar tidak menimbulkan keributan. "Uuh.. Sungguh aku tak sabar untuk menikmati darah dari lehermu yang jenjang dan putih berkilau. Pasti sungguh nikmat rasanya."

"Tidak mungkin. Vampir itu tidak nyata!" protes Melody yang masih tidak percaya. "Kamu pasti hanya ingin menakut-nakutiku kan!? Kamu pasti seorang psikopat kan!?"

Charlie berbalik badan. Ia memerintahkan bodyguardnya untuk mendekatkan wajah Melody yang mulutnya telah dibungkam dengan plester. Dengan tangan kirinya ia memegang dagu Melody, lalu dengan keras mencengkram pipi Melody hingga salah satu kukunya melukai wajah cantik Melody. Ketika darah segar telah mengalir, tanpa ragu Charlie menjilat dan mengecupnya hingga bersih. Melody hanya bisa menagis dengan mulut terbungkam.

Bruukk! Atap mobil Jeep Charlie seperti dijatuhi sesuatu. Seisi mobil merasa panik. "Tembak atapnya--dasar kalian bodyguard bodoh!" bentak Charlie. Dor! Dor! Dor! Mereka semua menembaki atap hingga berlubang-lubang. Melody menjerit karena tersiksa dengan rentetan suara pistol yang menyakiti telinganya. Ketika amunisi telah habis dan tembakan berhenti, kaca jendela depan mobil dipecahkan oleh Ve sambil menghantam sang supir dengan kedua sepatu ninjanya. Mobil pun oleng dan berbelok tajam masuk kedalam hutan, karena tak ada yang mengemudikan.

Veranda! batin Melody dengan gembira.

Ve melesatkan dua kunai yang masing-masingnya membunuh seorang bodyguard di kursi belakang. Kemudian ia menghentikan mobil dengan menarik rem tangan sekuat-kuatnya, dan saling baku hantam dengan Charlie setelahnya. Veranda berusaha melukai Charlie dengan segala senjata ninja yang ia miliki. Sedangkan Charlie hanya berusaha menggigit Ve sebisa mungkin agar dia juga menjadi vampir, tapi juga belum berhasil.

Melody dengan tangan yang terikat dibelakang mencoba mencabut kunai yang tertancap didada mayat bodyguard disampingnya. Ketika sudah didapatkan kunai itu, ia segera memotong tali yang mengikat tangannya, dan melepaskan tali yang membelenggunya. Setelah bebas, tanpa membuang kesempatan-dan dengan rasa takut yang luar biasa-ia menjenggut rambut Charlie dan menyembelihnya dengan kunai sambil memejamkan mata. Melody ketakutan melihat darah vampir berwarna hitam nan hangat mengotori tangannya.

Sesaat Melody dan Ve merasa lega karena mengira Charlie sudah mati, tapi ternyata luka sayat di leher Charlie sembuh dalam hitungan detik! Sebelum Charle tersadar sepenuhnya, Ve berinisiatif meledakkan bom asap, menggendong Melody, lalu melesat keluar dari mobil. Tapi tak disangka, Charlie juga bisa melesat keluar dari mobil. Ia mencengkram kaki Ve sehingga membuat Ve terbanting dengan keras ditanah. Charlie segera merenggut Melody dari Ve, lalu ia pergi menghindar sejauh-jauhnya.

***

Bryan dan Ismu masih dalam perjalanan. Ketika titik hijau di peta tiba-tiba melenceng keluar dari jalan utama, driver ojeknya melambatkan laju motor dan segera bertanya, "Mas, sepertinya orang yang mas kejar sekarang masuk ke dalam hutan. Apa mau dilanjutkan pengejarannya?"

"Lanjut saja, mas!" ujar Bryan bersemangat.

Sang driver ojek merasa keberatan dengan tugasnya, dia pun menjelaskan bahwa jalan di hutan itu sangat terjal dan akan membahayakan keselamatan mereka bertiga bila terus dilanjutkan. Namun Ismu dan Bryan tetap memaksanya untuk melanjutkan perjalanan, apapun resikonya. Sang driver ojek itu tetap merasa keberatan, dan akhirnya Ismu berkata, "Tenang saja, nanti kami beri uang tip yang banyak!"

Driver ojek itu berubah menjadi bersemangat setelah mendengar kata 'tip yang banyak'. "Alright, demi membeli laptop Alienware, aku akan melakukannya!" gumamnya dengan semangat membara. 

"Kami gundulmu!" bisik Bryan kepada Ismu untuk menolak kesepakatan yang tiba-tiba itu.

"Jangan curang!" seru Ismu seraya menyikut perut Bryan. "Naik ojek ala cabe-cabean ini kan ide jenius kamu!"

"Ah, baiklah." ujar Bryan dengan lesu. Yah sepertinya bakalan batal lagi deh rencana beli novel Assassin's Creed bulan ini, sesalnya dalam hati. Mana lagi diskon 70% pula, itu kan diskon yang langka sekali.

"Ayo jalan, mas." perintah Ismu.

Brum! Sang driver memacu motornya hingga berbelok keluar jalur dan memasuki hutan. Jalanan di hutan ini begitu kasar dan terjal, sehingga membuat motor terus bergoyang-goyang dan bergetar. Bahkan tak jarang ketika menghindari sebuah lubang, mereka malah terkena lubang lainnya yang tersembunyi dibalik rumput. Namun, ujian itu belumlah seberapa, mereka kini harus berhadapan dengan jajaran pohon pinus. Bryan dan Ismu sama-sama berteriak tidak karuan membayangkan mereka akan menabrak pepohonan itu. Tapi untungnya si driver ojek ini menyetir dengan cukup handal, sehingga ia bisa menyelip-nyelip ke celah diantara pepohonan dengan lihainya.

Ismu terkejut melihat Ve tergeletak ditanah. "Bang, berhenti!" perintahnya seraya menepuk-nepuk pundak si driver ojek. Ia segera turun dari motor dan mencoba memeriksa keadaan Ve, dan menggoncang-goncangkan tubuhnya. "Kak, bangunlah!"

Ve membuka mata sambil memegangi kepalanya yang pusing. Ia segera bangkit dengan terkejut, "Celaka! Melody harus segera kita kejar sebelum ritual penumbalan di hutan ini akan berlangsung!" serunya. Ve segera melompat-lompat hingga mencapai pucuk pohon tertinggi, dan bertengger disana. Ia memejamkan mata, dan mengeluarkan jutsu mata elang yang memungkinkannya untuk mencari musuh dengan jarak sejauh apapun, meskipun ia sedang berada didalam kegelapan. Setelah itu Ve segera turun dan memerintahkan kedua temannya berserta si driver ojek untuk mengikutinya.

"Lah, kok saya ikut juga?" protes driver ojek itu.

"Kamu bisa pergi dengan kemungkinan kematian yang besar sekarang, atau bergabung dan bertahan bersama kami dengan kemungkinan kematian yang jauh lebih kecil." 

Sang driver terkejut. "Ya ampun," serunya. "Aku menyesal bertaruh nyawa mengantarkan kalian berdua masuk ke hutan ini!"

"Jangan khawatir, nanti akan aku berikan tip." ujar Ve.

Lagi-lagi, ketika mendengar kata 'tip', sang driver ojek ini dengan cepat berubah fikirannya. "Baiklah, demi Alienware, aku akan membantu sekuat tenaga!" ujar si driver. "Aku akan membantu kalian menghadapi siapapun, sekalipun nyawa taruhannya!"

"Akan aku belikan Alienware itu, tapi kamu harus bantu kami. Oke?" kata Veranda.

"B.. Ba.. Baik!" jawab driver ojek, tak percaya impiannya dengan mudah akan diwujudkan.

"Hei tunggu Kak Ve, itu nggak adil bagi kami," protes Bryan. "Setidaknya kakak juga harus memberikan tip untuk aku dan Ismu."

"Baiklah, kalian berdua mau apa?"

Bryan dan Ismu langsung saling berbisik-bisik, mencurigakan. Pada akhirnya mereka menarik sebuah kesimpulan yang bagus. "Aku mau dicium Kak Melody," ujar Bryan bersemangat. "Ismu minta dicium sama kakak." Baik Bryan maupun Ismu harap-harap cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan Ve.

"Baiklah, kalau hanya di pipi, aku bisa mempertimbangkannya." jawab Ve yang terkejut, dengan agak berat hati. "Kalau Melody, ya.. mungkin dia tidak akan keberatan mencium orang yang menolongnya. Nanti aku akan bicara dengannya. Tapi aku tidak janji dia akan mau, Bry."

Bryan dan Ismu melompat-lompat kegirangan. Ve segera menghentikan kelebayan mereka, "Sudahlah jangan lebay. Musuh-musuh kita sudah sangat dekat. Bersiaplah!" perintah Ve. Kemudian ia mengambil 3 bilah pisau dan membagikannya kepada ketiga orang yang akan membantunya. Mereka bertiga nampak keheranan, mereka mengharapkan senjata yang lebih meyakinkan atau setidaknya lebih mematikan daripada itu.

"Sudahlah, hanya senjata itu yang aku punya!" seru Ve. "Tugas kalian sederhana, ikuti aku dan habisi apapun yang akan kalian temui nanti. Paham?"

"Paham boss!" jawab mereka bertiga, serentak.

Tak lama kemudian, suhu udara tiba-tiba menurun tajam, langit semakin menghitam, dan hanya cahaya bulan yang dapat menerangi kelamnya hutan itu. Para musuh mulai menampakkan diri. Mereka adalah para vampir kembar berwajah seputih kapur yang dengan bangga menyeringai untuk memamerkan sepasang gigi taringnya. Mereka tidak berjalan, tapi mereka melayang, sehingga jalan seterjal apapun tidak akan mengahalangi.

"Sekaranglah saatnya," ujar Ve. "Ayo maju dan kita serang mereka semua!"

Bersambung

Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..