Cerpen: Saving Melody (Part 3)



"Sekaranglah saatnya," ujar Ve. "Ayo maju dan kita serang mereka semua!"

Mereka bertiga mengangkat senjata dan berseru, "Hiyaaahh!". Tidak-tidak, itu bukan semangat berperang, itu justru adalah teriakan ketakutan yang mereka serukan selagi kabur. Mereka berlari meninggalkan Ve yang sedang diserbu para vampir.

"Aduh-aduh," Ve menepuk dahinya dan bergumam. "Susahnya mengandalkan penakut seperti mereka."

Namun usaha melarikan diri dari para vampir itu sia-sia belaka, karena sebenarnya mereka semua sedang dikepung dari segala arah. "Aaaaahhh!" mereka berbalik arah dan berlari mendekati Veranda. "Ah, bagus kalian kembali!" bentak Ve. "Ayo maju dan serang mereka semua!" Tapi rupanya mereka bertiga tidak mendengarnya, dan terus saja berlari sambil menyerang apapun yang ada dihadapannya sambil memejamkan mata karena ketakutan. Ve akhirnya lelah mengurusi mereka bertiga, "Ah masa bodoh, terserah kalian saja!" makinya. Ia kemudian ikut berlari menyerang kerumunan vampir bersama mereka bertiga.

***

Selama setengah jam mereka semua telah membantai ratusan vampir, tapi jumlah vampirnya sama sekali tidak berkurang, melainkan semakin bertambah dan serangannya semakin menggila. Ismu—walaupun awalnya takut—tetap bertarung meski tubuhnya luka-luka karena cakaran vampir, sedangkan si driver ojek masih semangat menggorok leher vampir sambil menentukan pilihan, Alienware tipe apa yang akan aku miliki nanti ya? fikirnya. Veranda—karena ia seorang jounin—masih tetap bertarung tanpa kenal lelah dengan berbagai jurus ninja. Sementara itu Bryan.. Eh, kemana dia?

Dengan nafas yang terengah-engah, Bryan bersembunyi dibalik batang pohon yang cukup besar. Sebenarnya ia tidak begitu takut bertarung, tapi ia sangat fobia terhadap darah. Karena itu dia begitu membenci anime gore, dan mengutuk penggemar disturbing picture. Karena ia sudah tidak tahan melihat darah, ia memutuskan untuk sembunyi saja. Itu lebih baik daripada nanti pingsan ditengah pertempuran, karena itu sama saja menghidangkan diri kepada para vampir.

Tapi naas, tak jauh dari persembunyiannya, seorang vampir sedang berjongkok memunggunginya. Vampir itu memejamkan mata sambil komat-kamit membaca mantera yang bahasanya sama sekali tak dapat dimengerti. Seandainya, vampir itu menyadari keadaannya, tamatlah riwayatnya.

"Aduh-aduh," gumam Bryan. "Kalau nggak dibunuh, dia bisa saja membunuhku setelah ini." Ia berjalan mendekati vampir itu, tapi ia berubah fikiran, "Aduh, aku benci darah. Aku tak bisa melakukannya." Ia berjalan mundur, tapi *Krak!* ia malah tak sengaja menginjak ranting. Vampir itu pun menoleh sambil menyeringai dengan penuh kemurkaan. Namun, sebelum vampir itu berbalik menyerangnya, rasa takut mendorongnya untuk segera membunuh vampir itu agar tidak menyerangnya. Berbekal ingatan adegan silent killing dari game Tenchu, ia menjenggut rambut sang vampir dan menusuk dadanya, lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong pisaunya kebawah untuk merobek perut sang vampir. Vampir itu berteriak, lalu berubah menjadi abu. Terbunuhnya vampir aneh ini disusul dengan kekalahan vampir lainnya. Jasad vampir yang telah mati berubah menjadi abu, sedangkan vampir yang masih hidup berubah menjadi kelelawar dan pergi sejauh mungkin meninggalkan hutan. 

Bryan pun keluar dari persembunyiannya, dan berlari sekencang-kencangnya ke arah Veranda. "Aaaahhh! Tolong!" teriaknya.

"Ini dia si kampret," bentak Ismu dan sang driver. "Kita berjuang mati-matian, kamu malah sembunyi, Bry. Dasar pengecut!"

"Kamu kenapa sih lari-lari begitu, Bry?" tanya Ve sambil mengernyitkan dahinya.

"Maaf, barusan aku membunuh vampir yang lagi sembunyi," ujar Bryan dengan nafas terengah-engah. "Tapi aku fobia darah! Aku bisa gilaa kalau melihat darah!"

Ve bersedekap sambil mengusap dagu. "Hmm.. Ternyata hanya vampir bayangan, seperti jurus bayangannya para ninja. Pantas saja jumlahnya tidak berkurang, dan mereka kembar." ujar Ve menjelaskan. "Kalau vampir yang asli dibunuh, maka vampir bayangannya akan musnah juga."

"Jadi yang Mas Bry bunuh itu vampir yang asli?" tanya si driver ojek.

"Ya—good job, Bryan!" jawab Ve sambil memuji Bryan. "Vampir yang asli pasti bersembunyi, dan membiarkan bayangannya yang bertarung."

Setelah mengalahkan vampir bayangan itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan Melody dari tangan Charlie. Tak peduli betapa lelahnya mereka, mereka tetap berlari menerjang hutan ditemani kabut dan cahaya bulan.. 

***

Lolongan anjing membelah kesunyian malam. Tujuh orang pelayan kegelapan menyambut kedatangan tuannya. Mereka tampak menakutkan dalam balutan jubah hitam. "Kami sudah menyiapkan altar kematian untuk ritual Anda, tuan Charlie," ujar salah seorang pelayan, menyambut Charlie yang datang dengan membawa Melody dalam gendongannya. 

Charlie tampak mengagumi keindahan altar yang disinari oleh cahaya bulan. "Sebentar lagi aku akan menikmatimu, darah suci," ujar Charlie dengan lembutnya sambil menatap Melody. Ia meletakkan Melody di depan altar, dan kemudian ia membuka jas dan kemejanya, tubuhnya yang kekar menambah ketampanannya yang nyaris sempurna. Setelah itu ia mulai membuka 2 kancing teratas dari kemeja Melody, dan melebarkan celahnya hingga memperlihatkan leher jenjang nan indah milik Melody. Charlie merapalkan mantera, dan segera menghisap darah dari leher itu.

Ve dan kawan-kawannya datang. "Sial," maki Veranda. "Kita sudah terlambat!"

Bryan seperti tersambar petir ketika melihat leher oshinya dikecup oleh Charlie. "Hei kau vampir bangsat!" seru Bryan, amarahnya meledak-ledak. "Beraninya kau mengecup leher oshiku seenaknya. Aku saja yang mau bersalaman di theater harus bayar!"

Catatan penulis: Bagi yang belum tahu, handshake (bersalaman) dengan oshi di theater itu harus bayar (dan tentunya tidak murah).

Charlie menoleh, wajahnya yang tampan kini menjadi menyeramkan dengan mata yang merah menyala yang menciutkan nyali siapapun yang melihat. Bryan yang ketakutan pun mundur dan bersembunyi dibalik punggung teman-temannya. Charlie murka, dengan suara yang telah berubah menjadi parau dia memerintahkan ketujuh pelayannya untuk menghabisi Ve dan kawan-kawannya. Para pelayan itu pun mulai menjalankan perintah tuannya.

Ketika teman-temannya bersiaga, Ve berkata, "Sudah, kalian duduk dan menyaksikan saja. Biar aku sendiri yang hadapi. Tugas kalian sudah selesai."

"Apa?" mereka bertiga keheranan. "Melody saja belum kita selamatkan. Masa tugas kami selesai secepat ini?"

"Menghadapi Charlie adalah tugasku dari hokage, biar aku yang menyelesaikannya. Lagipula aku tidak mau kalian terluka." ujar Ve. Ketika teman-temannya hendak memprotes, Ve memotongnya, "Tenang saja, aku tidak lupa dengan tip untuk kalian semua."

Para pelayan Charlie mulai mendekat. Ve berlari menghampiri mereka. Ia menarik dua bilah pisau dari sarungnya. Sambil berlari, Ve menusukkan pisau dengan telak ke perut dua pelayan terdepan. Kemudian ia melompat dan menunggangi pelayan yang berada ditengah lalu menggorok lehernya. Ketika pelayan lainnya mendekat, ia melakukan tendangan memutar tubuh sambil turun dari pelayan yang ditunggangginya, dan setelah pelayan itu jatuh, Ve menusukkan pisau ke dadanya dan merobek perutnya. Tersisa tiga pelayan terakhir. Ve menggunakan jurus bayangan untuk menciptakan dua kloning dirinya dan menyerang para pelayan terakhir dengan serangan cepat yang tak kasat mata. Ketujuh pelayan itu pun sukses dikalahkan dengan mudah oleh Ve. Bryan dan kawan-kawannya hanya bisa melongo penuh rasa kagum.

Tanpa membuang waktu, Ve menyerang Charlie yang sedang sibuk menghisap darah. Namun sayangnya Charlie menyadarinya, dan ia berbalik badan lalu melesatkan hantaman telak kepada Ve. Ve terjatuh dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Sial, kekuatannya berlipat ganda karena telah meminum darah suci! sesal Ve dalam hati.

Charlie mengangkat kedua tangannya, bulan purnama perlahan tapi pasti berubah menjadi merah. Sesuatu menggeliat dari dalam kulit punggung Charlie. Ketika kulit punggungnya sobek, keluarlah dua sayap kelelawar yang hitam nan lebar, bahkan lebih lebar dari depa tangannya sendiri. Kepalanya juga mengeluarkan tanduk, dan bokongnya mengeluarkan ekor. Kulitnya perlahan tapi pasti berubah menjadi sehitam arang dan juga mengeras. Kini Charlie yang tampan telah berubah menjadi iblis yang buruk rupa.

Ve segera mengeluarkan jurus seribu bayangan yang membuat dirinya terbagi menjadi seribu wujud kembar, kemudian ia mencoba menghabisi Charlie. Ribuan pukulan, tendangan, dan jutsu telah dikeluarkan, tapi tidak satupun dapat melukai Charlie. Ve sudah tidak sanggup menahan jurus bayangannya lebih lama lagi, ia kehabisan cakra. Akhirnya bayangan Ve musnah, dan Ve yang asli jatuh berlutut karena kelelahan.

Bryan dan kawan-kawan menghampiri, "Kakak tidak apa-apa?" tanya mereka.

Charlie bersedekap sambil menertawakan makhluk-makhluk lemah dihadapannya. "Veranda, oh Veranda. Setelah selama empat tahun aku gagal menculik Melody karena selalu kamu lindungi, kini aku berhasil, dan kau akan dicap sebagai jounin gagal konoha! Hahaha.." Charlie kemudian terus berceramah panjang lebar mengenai peran dirinya yang akan melangsungkan new world order, perannya dalam mengangkat bangsa vampir yang selama ini diam-diam selalu dibasmi pemerintah, dan lain sebagainya.

Ve tidak mempedulikan ucapan omong kosong Charlie. "Dengar, teman-teman," kata Ve, serius. "Kelemahan Charlie ada di jantungnya, kulitnya sudah berubah menjadi sekeras baja dan tak dapat ditembus dengan apapun. Kalau kalian mau lari, larilah selagi masih ada kesempatan!"

"Kami tidak akan lari!" bantah Ismu. "Lebih baik gugur sebagai pejuang daripada harus mati sebagai pengecut yang melarikan diri. Lagipula aku nggak tega melihat kakak, oshiku, terluka dan harus menghadapi iblis itu sendirian."

"Aku juga tidak mau kehilangan Kak Melody," ujar Bryan. "Tidak ada senyuman lain yang mampu bikin aku semangat, kecuali senyuman Kak Melody yang indah dan penuh ketulusan. Lagipula aku belum sempat dicium olehnya. Aku akan berjuang untuk itu!"

Ve terharu mendengar ucapan teman-temannya.

"A.. Ak.. Aku juga nggak ikhlas kehilangan kak Ve yang cantik ini," sela driver ojek. "Karena nanti mimpiku memeluk Alienware bisa pupus.. Huah.. Itu mimpi buruk!" 

"Bagus," seru Ismu sambil mengeplak kepala si driver ojek. "Kamu sukses merusak suasana penuh haru ini, mas!"

"Aduh-aduh," ujar Ve sambil menepuk dahi. "Terimakasih banyak teman-teman!" ucap Ve kemudian, seraya merangkul teman-temannya. 

Namun, tiba-tiba Charlie dengan secepat kilat melesat, lalu berhenti di hadapan Ve dan mencengkram leher Ve dengan tangan kanannya. "Ouw-ouw, sungguh menyedihkan ucapan manis kalian, tapi maaf, cukup sampai disini saja dramanya!" katanya, merusak suasana. Wajah Ve memerah karena cengkeramannya begitu kuat, tapi ia memaksakan diri untuk berpesan pada sahabatnya. "Kalian pergilah.." ucap Ve dengan lemah sehingga lebih terdengar sebagai bisikkan. Diam-diam Ve menjatuhkan beberapa kantung dari seragam ninjanya, sebelum akhirnya Charlie—dengan secepat kilat pula—melesat kembali ke depan altar kematian sambil menyeret Ve.

Amarah Ismu meledak-ledak. Ia hampir saja berlari ke altar untuk mengejar, tapi Bryan dan sang driver menahannya. "Kalian ini kenapa sih?" bentak Ismu seraya meronta-ronta agar dilepaskan. "Lihatlah, Kak Ve dalam bahaya."

"Kita harus segera mundur, mas!" ujar sang driver. "Penyelamatan ini sudah nggak realistis. Diri kita bertiga lebih perlu diselamatkan!"

"Bukan begitu. Kita mundur bukan untuk menyerah," ujar Bryan membantah. "Kita harus memikirkan strategi tanpa gangguan setan tampan itu. Ayo, mari kita mundur, bro." Ismu pun akhirnya menurut dan tidak lagi memberontak.

***

Dibalik batang pohon yang cukup besar, Bryan dan kawan-kawannya mulai merencanakan strategi sambil terus mengawasi keadaan Ve dari kejauhan. Baik Ismu maupun sang driver sama sekali belum memberikan strategi yang bagus, strategi mereka dirasa tidak begitu efektif. Ismu akhirnya menyerah dan tidur-tiduran di rumput, disusul dengan sang driver. "Rumus matematika lebih mudah bagiku, daripada merancang strategi." ujar Ismu, sang driver juga sepakat dengannya.

Sementara itu, Bryan terus berfikir. Ia berjalan mondar-mandir sambil memperhatikan kantung-kantung yang ditinggalkan Ve. Ia membuka kantungnya dan melihat isinya. Kantung kelabu berisi bom asap kelabu sebesar bola ping-pong. Sedangkan kantung yang hitam berisi bom sebesar bola golf, Bryan tidak tahu apa gunanya. Namun, di bagian belakangnya ada huruf kanji yang nampak seperti panduan pemakaian. Bryan pun meminta bantuan Ismu yang memang sudah lama mempelajari bahasa dan huruf Jepang.

"Baiklah, berikan aku waktu untuk menerjemahkannya." pinta Ismu. Sang driver mencoba membantu, tapi ia malah mengira huruf itu adalah huruf Cina.

Sementara menunggu, Bryan terus berfikir sambil mengawasi Ve. Saat ini tampak Ve sedang disiksa oleh Charlie—sambil tertawa kejam—hingga lemah tak berdaya. Seragam ninjanya sobek-sobek tidak karuan, darah berceceran hingga membuat Bryan bergidik, dan nafas Ve sudah tersengal-sengal seakan sudah mau mati. "Ayolah otakku, fikirkanlah sesuatu. Kak Ve sudah hampir mati!" gumam Bryan sambil memukul-mukul kepalannya.

"Bry, aku sudah selesai!" ujar Ismu. "Aku tidak mengerti seluruhnya, tapi aku menangkap beberapa kata. Benda ini adalah bom dengan daya ledak yang cukup untuk menghancurkan sebuah kuil. Untuk menggunakannya, tinggal tekan saja tombol ini lalu lempar. Bom ini akan meledak dalam 30 detik setelah diaktifkan."

"Terimakasih, Ismu." ucap Bryan.

"Bom dari Kak Ve ini mau diapakan, Bry?" tanya Ismu. "Kulit Charlie saja sekarang ini lebih keras dari baja. Bom takkan melukainya."

"Itulah yang sedang aku fikirkan. Kak Ve pasti tidak mungkin sengaja meninggalkan bom ini tanpa tujuan." Bryan pun kembali berfikir sambil berjalan mondar-mandir. Tawa bodoh Charlie mengganggu konsentrasinya. Namun, ketika memperhatikan tawa Charlie, sebuah ide menampar otaknya. "Aku dapat ide!!" serunya.

Ismu dan sang driver buru-buru mendekati Bryan. "Kalian sadar tidak ada sesuatu dari tawa Charlie?" tanya Bryan, kedua temannya menggeleng. "Baiklah, akan aku jelaskan. Bagian luar tubuh Charlie boleh saja keras, tapi aku yakin bagian dalamnya tetap lembek. Dengan kata lain, pencernaannya pasti tidak mungkin sekeras baja. Kalian paham kan?"

"Wow," ujar Ismu. "Kalau begitu, kita bisa memasukkan bom ini ke mulut Charlie!"

"Ketika bomnya meledak, jantungnya juga akan ikut meledak!" sambung sang driver. "Kamu benar-benar jenius Mas Bryan!" pujinya.

"Tapi bagaimana cara kita melakukannya?" tanya Ismu. "Bomnya cuma satu pula."

Bersambung

Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..