Review Novel The Hobbit


Assalamualaikum. Readers, sebenarnya sudah sangat terlambat bagiku untuk mengulas novel ini. Tapi kalau aku menyukai sesuatu, tentu aku tidak akan segan-segan membahasnya di blog ini. It's okay, terlambat tidak masalah bukan? Kini yang jadi masalahnya adalah aku yang tidak tahu caranya mereview sebuah buku.. *Plaak*

Baiklah, aku akan mulai mengulasnya dengan gaya review game. Semoga tidak absurd.. Yeah, aku akan mengevaluasi dan memperbaikinya setelah ini..

The Hobbit adalah sebuah novel karya Eyang J.R.R.Tolkien yang membuka seri petualangan The Lord of The Rings. Kalau kamu berencana untuk membaca novel TLoTR, sebaiknya baca dulu The Hobbit. Kenapa? Karena buku--yang ditulis seperti dongeng ini--akan membantu kamu beradaptasi dengan dunia imajinasinya Eyang Tolkien di buku-buku selanjutnya.

The Hobbit bercerita mengenai petualangan seorang hobbit bernama Bilbo Baggins yang sama sekali tidak pernah berpetualang. Hidup Bilbo kebanyakan dihabiskan dirumah dengan bersantai-santai, meminum teh, dan menghisap tembakau sambil memandang keluar jendela, menikmati indahnya pemandangan disekitarnya. Namun hidup membosankan itu seketika berubah ketika bertemu seorang penyihir bernama Gandalf.

Suatu hari Gandalf mengajaknya berpetualang, namun Bilbo bersikeras menolaknya karena dia ingin hidup santai. Keesokan harinya Gandalf datang bersama para kurcaci untuk menghadiri pesta teh Bilbo. Para kurcaci itu selalu membicarakan tentang petualangan mencari harta yang dijaga oleh Smaug, naga yang jahat nan kejam. Bilbo akhirnya--dengan agak terpaksa--mulai berminat untuk ikut berpetualang bersama mereka.

Nah, kebayang nggak sih bagaimana si Bilbo yang setengah introvert ini tiba-tiba akan berpetualang dalam bahaya. Pasti bakal menarik bukan? Yeah, tentu saja!

Untuk buku yang bahkan tebalnya tidak lebih dari novel Eragon, petualangannya sangat panjang tapi juga padat dan seru sekaligus menghibur. Tidak ada jalan cerita yang bertele-tele: semuanya ditulis dengan sempurna oleh Eyang Tolkien. Memang sih aku sempat bosan di pertengahan buku, tapi setelah membaca bagian dimana Bilbo sedang melawan laba-laba, aku kembali semangat membaca lagi.

Meskipun topiknya adalah petualangan, banyak juga sisi humornya loh. Bagian terlucu yang paling aku ingat adalah ketika Bilbo beradu teka-teki dengan se-(orang apa ekor ya?) goblin hitam kanibal. Pada bagian itu Bilbo menunjukkan kecerdasannya dalam membuat teka-teki, sekaligus menghibur pembaca dengan konyolnya mereka

Selain menghibur, buku ini juga penuh dengan makna dan pelajaran yang dikemas secara apik sebagai pesan tersembunyi, jadi tidak mengganggu ceritanya sama sekali. Ini keren banget, aku kepingin belajar membuat sublimial message dalam ceritaku, semacam ini!

Oh iya, hampir lupa. Dibuku ini juga banyak sajak yang indah. Sajak-sajak itu sebenarnya digunakan untuk menggambarkan nyanyian. Tapi berhubung ini buku, ya lagunya aku karang sendiri. Kadang nada lagu Dewa 19 atau Ikimono Gakari aku pakai untuk menyanyikannya. Hahaha! *Plaak!*

Selain itu, aku suka cara Eyang Tolkien mengakhiri buku ini. Patut dicontoh penulis lain. Seringkali aku temui ending (di novel lain) yang membuatku bertanya, "Loh kok udahan ceritanya?" Tapi berbeda dengan The Hobbit, endingnya membuatku berkata, "Wah keren. Aku puas!" karena ceritanya tidak langsung selesai begitu saja. Eyang Tolkien juga bercerita sedikit tentang masa sesudah petualangan. Itulah yang membuatku puas.

Baiklah, saatnya memberi penilaian. Buku The Hobbit ini aku berikan nilai 5/5.

Bagi readers yang berminat, buku  ini aku beli dengan harga kalau nggak salah Rp.30.000. Aku bisa saja dapat harga yang lebih murah 30% seandainya aku memilih The Hobbit dengan sampul versi lama yang nggak menarik. Ah.. Tapi biarlah. Sampul buku ala poster film yang dicetak timbul ini menambah semangat membaca juga kok. Silahkan cari di toko buku terdekat..

Terimakasih sudah membaca review buku pertamaku. Aku akan belajar mereview dengan lebih baik lagi setelah ini. Sekali lagi terimakasih.

Wassalamualaikum!

Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..