Salahkah Bila Kita Bermimpi dan Punya Cita-cita?


Assalamualaikum. Readers, apakah kalian punya mimpi? Ceritakanlah padaku. Kenapa kamu enggan menceritakannya? Apakah kamu takut dianggap mimpi kamu itu tidak masuk akal dan terlalu tinggi? Hmm.. Itulah hasil dari sikap buruk khas lingkungan Indonesia yang sangat aku benci. Mereka sukses menciptakan mental block yang menghalangi generasi penerus untuk bermimpi. Padahal mimpi dan cita-cita itu penting.
Gambar oleh thedesigninspiration.com

Mungkin bila kita mengungkapkan mimpi kepada orang disekitar kita, kita pasti akan mendapat jawaban begini, "Halah, mimpi lu ketinggian, tong!" atau ditertawakan. Aku sungguh sedih mendengarnya. Bagiku, mereka yang tidak menghargai mimpi dan cita-cita, adalah manusia yang tidak lebih dari sampah.

Bila mengingat masa kecil. Mungkin kamu atau temanmu pernah mengalami ini: Kamu suka menggambar, dan terus menggambar setiap hari. Namun, semua berakhir ketika kamu dimarahi, "Kamu itu menggambar terus. Mau jadi apa kamu kalau besar nanti!". Akhirnya terciptalah mental block.
"Bagaimana kita bisa mewujudkannya?! Jika untuk bermimpi pun kita takut.." - Harly Umboh
Jadi kalau bermimpi itu salah, apakah hidup kita harus selalu berakhir sebagai seorang karyawan perusahaan? Itukah yang dianggap sebagai tujuan hidup yang benar? Tidak; itu salah besar! Karena pemimpin perusahaan juga adalah seorang pemimpi, dan mereka mempekerjakan siapapun yang tak punya mimpi yang siap untuk hidup monoton. Karena apa? Orang yang punya mimpi, tidak akan betah terkekang!

Sungguh, aku iri dengan Jepang. Aku memang orang yang paling kontra dengan kebudayaan abu-abu negeri sakura yang sudah mulai bergerak untuk merusak generasi kita. Tapi aku tidak bisa menampik bahwa orang Jepang itu inovatif, sehingga teknologinya selalu ada-ada aja. Mulai dari robot, games, inovasi arsitektur, dan lain sebagainya.

Mereka bisa begitu, bukan sekedar karena lebih pintar. Tapi karena mereka punya mimpi yang tinggi! Orang Indonesia banyak yang pintar kok, bahkan lebih, tapi sayangnya tidak punya mimpi. Sehingga akhirnya hanya bisa menggunakan kepintarannya untuk mewujudkan rencana si pemimpi. Itulah yang membuat bangsa ini tertinggal, bangsa tanpa masa depan yang jelas karena diharamkannya mimpi.
"The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.." - Eleanor Roosevelt
Kalau kalian ingin tahu bagaimana Jepang mengagungkan mimpi, kalian tanya para penggemar Jejepangan. Apa yang diperjuangkan setiap karakter utama dari sebuah anime? Impian! Apa yang diperjuangkan setiap karakter utama dalam dorama? Mimpi! Bodoh pun impian mereka, tetap saja mimpi adalah mimpi. Mereka bersemangat karena punya mimpi untuk diperjuangkan!
"Without leaps of imagination, or dreaming, we lose the excitement of possibilities. Dreaming, after all, is a form of planning.." - Gloria Steinem
Begitu pula dengan para musisinya, mereka juga mengagungkan mimpi.Contoh kecil, kalian pasti tahu JKT48 yang lagu-lagunya menyadur dari AKB48. Kalau kalian dengarkan lagu mereka yang berjudul River, Buah Masa Depan, Gadis Remaja, Shonichi, Sakura no Hanabiratachi, Beginner, Pesawat 365 Hari dan masih banyak lagi. Semuanya mengagungkan mimpi dan membuat pendengarnya bersemangat meraih mimpi. 

Salah satu lirik yang aku sukai dari Pesawat 365 Hari:

Hidup bagaikan pesawat kertas
Terbang dan pergi membawa impian
Sekuat tenaga dengan hembusan angin
Terus melaju terbang
Jangan bandingkan jarak terbangnya
Tapi bagaimana dan apa yang dilalui
Karena itulah satu hal yg penting
Selalu sesuai kata hati

Aku juga bahkan pernah menangis ketika menyaksikan MV lagu Planetarium yang dinyanyikan Ikimono Gakari. Lirik lagunya terdengar seperti bualan omong kosong, tapi kalau kita mau mengesampingkan itu dan meresapinya. Kita akan rasakan sendiri ada tangis haru yang mengobarkan semangat untuk meraih mimpi setelah mendengarkannya.

Sekarang kita beralih ke Amerika. Apakah kamu pernah menyaksikan seri film Back to the Future? Percayalah, teknologi khayalan yang selalu, selalu, selalu dianggap bodoh dan tidak mungkin, kini satu per satu menjadi kenyataan. Kalian bisa mencari tahu sendiri apa saja impian impossible sang penulis yang menjadi possible, karena cukup panjang untuk dibahas disini.
"Impossble itu terdiri dari dua suku kata. Yaitu I'm - Possible." - Deddy Corbuzier
Mulai sekarang, tegakkan kepala dan jangan pernah takut lagi untuk bermimpi. Kalau orang lain tidak bisa menghargai mimpi dan cita-citamu. Maka, biarkanlah dirimu sendiri yang menghargainya. Tanpa mimpi, hidup kita tidak akan pernah memiliki semangat. Tanpa mimpi, kita tidak punya sesuatu untuk diperjuangkan. Selain itu, jangan lupa juga untuk belajar menghargai mimpi orang lain, jangan sampai mental block ini diteruskan.
"We all have dreams. But in order to make dreams come into reality, it takes an awful lot of determination, dedication, self-discipline, and effort.." Jesse Owens
Tetap semangat readers! Bermimpilah dan bercita-citalah setinggi apapun itu, karena selama kamu percaya dan terus memperjuangkannya, akan selalu ada kemungkinan untuk menjadikannya kenyataan!

Terimakasih.

Wassalamualaikum.
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..