Benarkah Anime Lebih Baik daripada Sinetron?

Assalamualaikum. Sekian tahun berlalu dan penggemar sinetron masih berperang dengan penggemar anime. Masing-masing dari mereka meyakini bahwa yang mereka sukai jauh lebih baik dari yang lain. Benarkah demikian? Bersama denganku sebagai seorang yang tidak fanatik terhadap anime maupun sinetron, kita akan mencari jawabannya.

Hal yang paling sering dikritik dari sinetron adalah episode yang tidak ada habisnya, cerita yang klise dan sering dipanjang-panjangkan, serta banyaknya adegan yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak. Hanya itu kah? Aku melihat bahwa alasan ini tidak cukup kuat, aku lebih melihatnya sebagai bentuk cacian yang didasari dendam semata.

Soal episode, memang harus aku akui bahwa sinetron episodenya terlalu banyak. Tidak seperti anime yang biasanya kurang dari 25 episode (kecuali Naruto, One Piece, Bleach, dsb). Soal cerita yang klise, kalau pembandingnya adalah anime jaman dulu, aku setuju. Kalau pembandingnya adalah anime jaman sekarang? Matamu sudah rusak, nak. Cerita anime saat ini, bahkan sampai ke pembuatan karakternya klise semua. Bahkan tak sedikit yang karakternya mirip-mirip.

Naruto dan seangkatannya adalah pilar terakhir dunia anime. Seandainya mereka tamat, anime mana yang bisa menjadi pilar? Aku belum tahu, dan tidak yakin.

Sebenarnya sinetron Indonesia dulu punya setitik harapan lewat 7 Manusia Harimau. Ceritanya bagus, dan berbobot. Bahkan aku sempat berfikir kalau sinetron itu dibuat animasi, mungkin nggak kalah dengan animasi luar. Kamu mungkin akan mengejek, yeah aku maklum, karena kamu tidak kenal Motingo Busye sang penulis cerita aslinya. Namun, kerennya sinetron ini rusak karena episode yang dipanjang-panjangkan.

Soal mendidik atau tidak, kalau membandingkan anime dengan sinetron maka kamu salah alamat. Di satu sisi anime mengajarkan persahabatan, perjuangan meraih mimpi, dan lain sebagainya. Disisi lain anime mengajarkan tindakan yang jaauuuhhh lebih tidak pantas daripada sinetron. Misalnya anak sekolah mengintip rok, mengintip perempuan mandi, seks bebas, cinta sesama jenis, dan lain sebagainya. Pantaskah membandingkannya dengan adegan yang hanya saling tatap wajah di sinetron? Tidak sebanding. Tapi ya tentu, keduanya tidak pantas.

Kalau mau membahas lebih panjang lagi, maka tidak ada habisnya.. Masalah utama disini adalah perbedaan kultur atau kebudayaan. Di Indonesia, masih ada batas yang jelas antara hiburan keluarga dengan dewasa, bahkan lembaga sensor sampai mengorbankan tayangan dewasa dengan blur dimana-mana. Di negeri ini masih ada agama, yang masih menegaskan batas.

Sedangkan Jepang, negeri yang 'menghormati geisha' dan hidup dari "industri film porno", mereka memiliki batas abu-abu antara hiburan keluarga dengan dewasa. Bahkan batas kelabu itu sudah hampir rusak. Kultur seperti itu tentu tidak akan bisa masuk ke negeri ini, dan bila masuk maka akan merusak adat kita. Yeah, sekarang kultur Jepang sudah mulai menyebar, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali pemerintah angkat perisai dan kita sendiri yang menegaskan sebuah batas.

Ratis acara TV di Indonesia dengan Jepang juga sangat berbeda. Tayangan remaja disana sudah seperti tayangan dewasa. Sedangkan di Indonesia, tayangan anak-anak ratingnya remaja. Hahaha.. Adu pusing aku.. Haha..

Jadi, antara anime dan sinetron mana yang lebih baik?

Keduanya sama-sama tidak ada yang baik. Aku bahkan sudah dari dulu mencegah adikku untuk menikmati sinetron maupun anime. Karena baik anime maupun sinetron, keduanya sama-sama akan menyesatkan. Jadi, sudahlah daripada meributkan hal bodoh ini, lebih baik saling berdamai. Kalau anime dan sinetron itu mendidik, keduanya pasti bakal tayang di NET. Soalnya hanya NET yang selektif dalam memilih acara apa yang akan mereka tayangkan. Tapi ya nggak mungkin..

Sudahlah, kalau memikirkan mendidik atau tidak, apa yang bakal kita tonton? Tontonlah apapun yang kalian mau dan suka, selama kalian masih bisa menegaskan batas untuk diri sendiri. Karena dunia informasi tidak ada batas rating sama sekali. Kita sendiri yang harus bisa menahan agar tidak sampai menonton yang tidak-tidak.

Lebih penting lagi mengawasi orang yang bisa kita lindungi dari tontonan yang tidak bermutu, agar mereka tidak salah pilih. Oke?

Terimakasih.

Wassalamualaikum

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

    Share yuk

    Related Posts

    Previous
    Next Post »