Review Novel Kabut Kiriman dari Vietnam

Assalamualaikum. Beberapa minggu yang lalu aku dapat kiriman beberapa novel dari kakak, dan satu yang paling menarik adalah Kabut Kiriman dari Vietnam. Sebenarnya aku sudah lama kepingin review novel itu tapi karena ditunda-tunda ya keburu males.

Tapi sekarang lagi semangat ngeblog nih..

Kabut Kiriman dari Vietnam adalah novel karya Mayon Soetrisno yang diterbitkan tahun 1982. Novel ini bercerita tentang kehidupan manusia perahu dari Vietnam yang terdampar di Kepulauan Riau, dengan sudut pandang seorang wartawan bernama Sondang. 


Kalau readers cuma baca novel ini baru seujung kuku, yang kamu dapatkan cuma cerita percintaan antara Sondang dan Nguyen. Tapi kalau dibaca dengan sungguh-sungguh, banyak sekali sisipan fakta sejarah, serta kritik-kritik sosial yang menohok namun tidak membuatku (manusia yang kurang suka pelajaran sejarah, dan muak lihat kritik untuk negara) menguap kebosanan.


Dalam buku yang tak seberapa tebal ini kita akan disuguhkan cerita yang padat mengenai masalah kemanusiaan yang dialami oleh mereka yang menjadi korban kemelut perang Vietnam. Emosi kita akan dikuras dengan berbagai cerita bagaimana mereka bertahan dari penderitaan dan melanjutkan hidup.

Nanti juga akan ada cerita mengenai bentrokan sosial antara para pengungsi Vietnam dengan pribumi, hingga cerita tentang suku laut yang sudah terlibat dengan perampokan di kepulauan Riau. Namun cerita yang paling menegangkan bagiku adalah tentang usaha Nguyen--bersama keluarganya--melarikan diri dari Vietnam yang digempur perang, hingga akhirnya bisa sampai ke Indonesia.

Tahu nggak. Ketika baca novel ini, kadang aku ada rasa bangga dan jengkel serta sedih..

Ada banyak fakta yang bikin bangga, misalnya hanya Indonesia yang berbaik hati menerima para pengungsi. Bahkan hingga menyediakan pulau khusus bagi mereka. Padahal banyak negara yang sudah menolak kedatangan mereka. Dan lain sebagainya. Keren bukan? 

Dan yang bikin aku jengkel dan sedih adalah banyak fakta menyedihkan. Misalnya seperti dokter puskesmas yang mementingkan kepentingan pribadinya sehingga enggan merawat pasien meskipun pasien tersebut sekarat. Kemudian ada juga fakta mengenai penggusuran semena-mena pada saat pemugaran Candi Borobudur. Hingga masalah klasik seperti pencemaran lingkungan akibat pertambangan bauksit. 

Kufikir hal itu baru terjadi saat ini. Ternyata sudah dari dulu!

Tapi meskipun banyak hal berbau kesedihan disini. Banyak hal yang membahagiakan juga. Menariknya, kebahagiaan kecil itu bukan berasal dari sesuatu yang mahal dan mewah; melainkan datang dari hal sederhana yang dibalut dengan cinta dan kasih sayang yang luput dari perhatian kita dewasa ini.

Baiklah, saatnya memberi nilai. Buku jadul ini aku berikan nilai 4.5/5. Terserah dengan rating di Goodreads yang tidak seberapa, aku rasa buku ini pantas mendapat nilai yang lebih dari itu.

Bagi readers yang berminat, mungkin agak sulit mencari buku ini karena sudah sangat-sangat jadul sekali. Tapi mungkin masih ada beberapa orang yang menjualnya secara online dengan harga yang variatif. FYI: Kak Rida membelinya seharga Rp.2000 di toko buku bekas.

That's it. Selamat membaca!

Terimakasih.

Wassalamualaikum.

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

    Share yuk

    Related Posts

    Previous
    Next Post »