Journal #53: Tentang Hujan


Ilustrasi: Google
Assalamualaikum. Mendung dan hujan adalah dua hal yang aku sukai, terlebih lagi bila itu turun di siang hari. Walaupun terkadang aku cukup menikmati juga hujan di malam hari.

Hujan di siang hari bisa dinikmati dengan secangkir teh dan membaca atau menulis. Sebab biasanya tidak ada orang yang berisik, atau motor berknalpot rusak yang lewat saat hujan. Murni hanya pemandangan indah dan suara yang menenangkan.

Sedangkan hujan di malamnya adalah penghantar tidur paling nyaman sedunia. Dinginnya cuaca membuat selimut menjadi tambah hangat. Suaranya hujan juga penghilang stres paling efektif. So saat terbangun aku merasa pagi jauh lebih indah. Udaranya bersih, dan tambah sejuk.

Kecintaanku pada hujan susah dijelaskan apa dan kenapanya. Aku cuma merasa hujan seperti mengeluarkan diriku yang sebenarnya. Saat hujan kreativitasku meningkat drastis, dan emosinya turun drastis.

Aku bahkan memasang aplikasi Rain Sound. Saat aku merasa dibawah tekanan, stres, atau sulit konsentrasi, aku dengarkan suara hujan dari situ. Soalnya biarpun kota Bogor itu kota hujan, bukan berarti bisa hujan kapanpun aku mau.

Aku juga pernah menulis gadis perindu hujan. Entah apa namanya. Bukan puisi atau sajak. Hanya ungkapan perasaan tentang seseorang..

Namun belakangan ini aku membenci langit mendung dan hujan. Sebab kini aku merasakan sesak luar biasa ketika orang yang aku sayangi wajahnya sedang murung bagai langit mendung, dan menangis sederas air hujan.

Puisi karyaku.
Jujur, aku kurang suka hari yang cerah. Itu bukan sekedar ungkapan. Tapi aku benar-benar benci panasnya hari ketika langit terlalu cerah. Namun karena aku tidak tahan lagi melihat mendung dan hujan di wajahnya, aku selalu berdoa untuk hari yang cerah.

Wassalamualikum.
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo berkomentar dengan sopan..