Kisah Semanggi dan Dandelion



Pagi itu cerah sekali, bulir-bulir embun berkilau terang di dedaunan, dan udara masih sejuk tanpa cemar polusi. Para tumbuhan berbahagia menyambut senyum mentari, dan merayakannya dengan memekarkan bunga-bunganya. Juga dedauan meninggi mengikuti cahanyanya. Namun ada satu yang bersedih, yaitu setangkai semanggi berdaun empat.

"Bahagianya mereka," keluh semanggi saat melihat para dandelion terbang terbawa angin. "Seandainya aku bisa pergi dari tempat ini seperti mereka. Pasti aku takkan bosan begini."

Tiba-tiba sehelai dandelion mendarat tepat di sebelahnya. "Ah, aku terbawa angin lagi." sesalnya dengan sedih.

"Hey, kenapa kamu bersedih? Aku sangat ingin terbang dan pergi sepertimu!"

"Aku sedih karena dipaksa berpisah dengan saudara-saudaraku oleh angin. Padahal aku masih ingin bersama mereka lebih lama." kata dandelion. "Aku iri padamu, karena kalian para semanggi selalu bersama, bertumbuh di tempat yang sama, sampai layu tetap bersama. Apalagi kamu adalah ratunya para semanggi, mereka akan selalu memayungi kamu."

"Tapi daripada memandangi tempat yang sama setiap saat, bukankah lebih mengasyikan bila mendarat di tempat yang baru?"

"Kami para dandelion tidak semuanya beruntung untuk mendarat di tanah. Coba kau bayangkan, kita sampai di kota yang indah tapi mendarat di beton. Atau mendarat di sungai lalu tenggelam. Apakah itu menyenangkan?"

"Tetap saja aku ingin terbang sepertimu!"

"Aku juga suka terbang, tapi aku maunya seperti burung. Sebab ia bisa menentukan arah terbangnya sendiri, dan mendarat sesuka hati." ucap dandelion penuh makna. "Kalau dibawa angin, atau ditiup anak-anak nakal, kita takkan tahu akan terbang dan mendarat dimana."

"Wah, benar juga ya. Lebih menyenangkan bila kita bisa terbang sesuai kehendak hati."

Sejak saat itu mereka setiap hari saling cerita tentang berbagai hal. Kebosanan semanggi pun berkurang, juga kesedihan dandelion semakin ringan.

Beberapa minggu kemudian helai dandelion itu tumbuh tinggi diantara hamparan semanggi. Semanggi berdaun empat pun bertanya. "Hey dandelion, apa yang kamu lihat di atas sana?"

"Segalanya nampak indah disini," jawab dandelion penuh semangat. "Ayo, tumbuhlah dengan melingkari batangku, agar kau bisa melihatnya!"

Beberapa minggu kemudian semanggi berdaun empat itu berusaha keras menyerap senyuman sang mentari, dan nutrisi dari ibu bumi untuk memanjangkan tangkainya sambil melingkari batang. Hingga akhirnya ia sampai di kepala dandelion. "Wah, di kepalamu sekarang ada helai dandelion lainnya."

"Ya, aku telah menjadi ibu sekarang."Anak-anak dandelion menyapa semanggi dengan antusias nan berisik. "Lihatlah disekitarmu sahabatku."

Semanggi terpesona melihat hamparan luas bunga warna-warni yang tumbuh dengan gembira untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia baru menyadari bahwa tempat tinggalnya selama ini begitu indah. Tak jauh dari situ ada sekolah, dimana anak-anak selalu bercanda ria tertawa setiap harinya. Ada juga taman dimana orang-orang terlihat santai dan bahagia.

"Aku menyesal pernah ingin meninggalkan tempat ini." ujar semanggi malu-malu.

"Lihatlah pagar kayu itu," kata dandelion. "Disitulah ibuku tumbuh."

"Wah, seandainya aku bisa berjalan, aku akan berkunjung!" ujar semanggi penuh semangat.

Mendadak dandelion menjadi murung. "Yah, seandainya masih bisa."

Tanpa sadar senja mulai tiba, dan langit berwarna oranye. Hembusan angin perlahan menggoyangkan dahan. Semanggi langsung melirik ke kepala dandelion. "Fyuh, masih aman." tapi angin berhembus lebih kencang lagi dan teriuplah semua anak-anak dandelion. Semanggi ingin berteriak karena terkejut, tapi ia tidak ingin sahabatnya semakin sedih.

Dengan tangis dandelion berkata, "Selamat jalan anak-anakku, hiasilah tanah gersang, dan taman bermain itu!"

"Jangan bersedih sahabatku, anak-anak lainnya pasti akan tumbuh lebih banyak dan lebih cantik lagi!"

"Itu tidak mungkin." dandelion itu menangis.

"Ayolah bersemangat!"

"Ibu dandelion pasti mati saat ditinggalkan anak-anaknya, dan sekarang aku telah merasakannya bahwa sebentar lagi aku mati." ucapannya semakin melemah.

"TIDAK! Kamu tidak boleh meninggalkan aku!"

"Maaf, seandainya aku bisa, aku ingin menemanimu selamanya. Terimakasih telah menjadi temanku selama ini. Selamat tinggal!" dan akhirnya dandelion itu tak bersuara lagi.

Semanggi memeluknya dengan erat sambil terisak.

Seorang anak TK tiba-tiba datang. "Sepertinya ini aku sedang beruntung hari ini!" ia berkata sambil memetik semanggi berdaun empat itu.

"Inikah rasanya mati?" tanya semanggi setelah merasakan daunnya mulai layu. "Inikah yang dia rasakan tadi?"

"Aku akan membawanya pulang!" anak itu pun menaiki mobil dan membuka jendela, lalu dengan bangga melambaikan daun itu diluar. Saking senangnya anak itu tak sengaja melepaskan tangkainya dan semanggi pun terbang bebas.

"Akhirnya aku bisa terbang.." ujarnya lemah. "Hey, dandelion aku terbang sepertimu sekarang.."

"Tante semanggi!" seru anak-anak dandelion yang juga terbang di sebelahnya dengan bahagia.

"Anak-anak.. Tumbuhlah dengan bahagia.."

Tak lama kemudian angin bertiup berlawanan, dan membawanya kembali pada hamparan kerajaan dedaunan semanggi. Akhirnya semanggi berdaun empat beristirahat untuk terakhir kalinya di sebelah sahabat dan saudara-saudarinya.

TAMAT
Bryan Suryanto Blogger

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo meninggalkan komentar..